Edit Template

Andi Achmad Rifai Manggabarani: Gubernur Sulawesi Selatan ke-1

Andi Achmad Rifai Manggabarani merupakan seorang perwira militer dan politikus Indonesia yang dikenal dalam dinamika pemerintahan dan keamanan di Sulawesi Selatan pada masa awal kemerdekaan hingga periode Orde Baru.

Dalam perjalanan kariernya, Achmad Rifai menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Selatan sejak 13 Desember 1960 hingga 17 November 1966. Setelah menyelesaikan masa tugasnya sebagai kepala daerah, ia melanjutkan kiprah di tingkat nasional sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Gotong Royong (DPR-GR) dari 13 Februari 1968 hingga 28 Oktober 1971. 

Latar Belakang Keluarga

Andi Achmad Rifai Manggabarani dilahirkan di Afdeling Polewali pada 23 Oktober 1924. Ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Terdapat perbedaan data mengenai tahun kelahirannya, karena pada bagian lain disebutkan tanggal 20 Desember 1920 sebagai waktu kelahirannya.

Achmad Rifai berasal dari keluarga bangsawan. Ayahnya, Andi Pabiluri, dikenal sebagai seorang bangsawan yang memiliki garis keturunan dari Ishak Manggabarani Karaeng Mangeppe, Raja Wajo ke-43 pada abad ke-18. Sementara itu, informasi mengenai ibunya belum dijelaskan secara lengkap dalam naskah yang tersedia. 

Awal Karier Militer

Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Achmad Rifai ditawari oleh seorang kenalannya untuk bergabung dengan kepolisian. Ia menerima tawaran tersebut dan memulai kariernya sebagai perwira polisi di daerah Mojokerto. Setahun kemudian, ia dipindahkan ke Lawang dan bergabung dengan Kepolisian Militer Angkatan Laut Republik Indonesia yang pada saat itu baru saja dibentuk.

Dari kepolisian militer, Achmad kemudian beralih ke Tentara Laut Republik Indonesia (TLRI), yang kelak menjadi cikal bakal Korps Marinir Indonesia. Dalam kesatuan ini, ia memegang komando atas pasukan TLRI di Kepanjen serta detasemen BIALRI. Pasukan yang dipimpinnya diterjunkan ke berbagai front pertempuran selama Revolusi Nasional Indonesia, menghadapi situasi militer yang penuh tekanan dan ketidakpastian.

Dalam pengakuannya, Rifai menyebut bahwa ia kerap menenggak minuman beralkohol untuk mengatasi rasa takut saat berada di medan tempur. Pernyataan ini menggambarkan sisi personalnya sebagai seorang prajurit muda yang harus menghadapi kerasnya peperangan di masa revolusi.

Angkatan Darat dan Penumpasan Gerakan Separatis

Pada tahun 1948, Tentara Laut Republik Indonesia (TLRI) dipindahtangankan dari angkatan laut ke angkatan darat. Seiring dengan perubahan tersebut, Achmad Rifai bergabung dengan satuan peralatan di Angkatan Darat. Dalam lingkungan baru ini, ia dipercaya memimpin Batalyon X-07 yang berlokasi di Blitar.

Pada akhir tahun 1948, ia dipindahkan ke Batalyon C dan menjabat sebagai wakil komandan. Setahun kemudian, pada 1949, Achmad dipromosikan menjadi komandan batalyon dan mengemban jabatan itu hingga tahun 1950. Dalam periode ini, ia terlibat dalam berbagai operasi militer untuk menumpas gerakan-gerakan separatis, termasuk Pemberontakan PKI 1948 serta gerakan Negara Islam Indonesia.

Setelah menyelesaikan tugasnya di Pulau Jawa, Achmad kembali ke Sulawesi Selatan. Ia ditunjuk oleh Andi Mattalatta sebagai Kepala Staf Batalyon 705, yang kemudian dikenal sebagai Batalyon Mattalatta atau Batalyon M, dengan markas di Kota Parepare. Tidak lama berselang, ia dimutasi menjadi Komandan Batalyon 709, yang kemudian dikenal dengan sebutan Batalyon Rifai.

Sebagai komandan, Achmad memimpin pasukannya dalam menghadapi berbagai gerakan separatis di awal 1950-an, termasuk Tentara Islam Indonesia di Sulawesi yang dipimpin oleh Kahar Muzakkar serta gerakan Republik Maluku Selatan. Pengalaman ini semakin mengukuhkan perannya dalam operasi-operasi militer di kawasan Indonesia bagian timur.

Pada tahun 1955, Achmad diberhentikan secara hormat dari jabatannya sebagai Komandan Batalyon 709 dan digantikan oleh Eddy Sabara.

Setelah diberhentikan secara hormat dari jabatan Komandan Batalyon 709 pada tahun 1955, karier militer Achmad Rifai justru terus menanjak. Ia diangkat sebagai Kepala Staf Resimen 23 dan menjabat dalam posisi tersebut sejak 1955 hingga 1956. Jabatan ini menempatkannya dalam lingkup tanggung jawab yang lebih luas dalam struktur komando militer di Sulawesi Selatan.

Selanjutnya, ia dipindahkan ke Makassar dan dipercaya sebagai Komandan Militer Kota Besar (KMKB) Makassar hingga tahun 1957. Dalam kapasitas ini, Achmad memegang kendali atas stabilitas keamanan di salah satu kota terpenting di kawasan Indonesia timur.

Pada Januari 1957, ia kembali bertugas di Resimen 23, kali ini sebagai komandan resimen. Kemudian, Achmad diangkat sebagai Kepala Staf Daerah Militer XIV/Hasanuddin pada 18 November 1959 oleh komandan M. Jusuf. 

Gubernur Sulawesi Selatan

Setelah menempati berbagai posisi strategis di lingkungan militer, Achmad Rifai ditunjuk dan dilantik sebagai gubernur pertama Provinsi Sulawesi Selatan pada 13 Desember 1960.

Pada masa awal kepemimpinannya, Achmad berupaya mendorong pembangunan daerah, khususnya dalam sektor pertanian. Ia merekrut tenaga-tenaga ahli dari Universitas Hasanuddin untuk membantu merumuskan kebijakan peningkatan produksi beras di Sulawesi Selatan.

Selama masa jabatannya, Indonesia menghadapi gejolak politik besar, termasuk Peristiwa Gerakan 30 September 1965. Peristiwa tersebut turut memengaruhi situasi politik dan keamanan di berbagai daerah, termasuk Sulawesi Selatan.

Pada 27 Juli 1965, Achmad Rifai bersama Menteri Perindustrian Ringan M. Jusuf dan Kepala Staf Angkatan Darat Ahmad Yani dinobatkan sebagai Warga Kehormatan Makassar. Achmad mengakhiri masa jabatannya sebagai gubernur pada 17 November 1966. Setelah itu, posisinya digantikan oleh Achmad Lamo.

Pendidikan Militer dan Karier Politik

Setelah menyelesaikan masa tugasnya sebagai Gubernur Sulawesi Selatan pada tahun 1966, Achmad Rifai mengikuti kursus singkat di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) dan menyelesaikan pendidikan tersebut pada tahun yang sama.

Usai mengikuti pendidikan di Seskoad, ia sempat berstatus sebagai perwira tinggi tanpa jabatan sebelum kemudian ditempatkan sebagai Komandan Korps Malo di Departemen Angkatan Darat pada tahun 1967.

Pada 13 Februari 1968, Achmad dilantik sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Gotong Royong (DPR-GR). Ia menjalankan tugas sebagai anggota parlemen hingga DPR-GR dibubarkan pada 28 Oktober 1971.

Setelah menyelesaikan kiprahnya di lembaga legislatif, Achmad mengakhiri karier militernya dan pensiun dengan pangkat mayor jenderal.

Pensiun

Setelah pensiun dari militer dengan pangkat mayor jenderal, Achmad Rifai tetap aktif dalam bidang manajerial dan industri. Ia diangkat oleh M. Jusuf sebagai Direktur Utama Pabrik Semen Tonasa dan menjabat sejak 1972 hingga 1975. 

Dalam posisi tersebut, ia berperan dalam meletakkan dasar pengembangan perusahaan semen tersebut, yang kemudian menjadi salah satu industri penting di Sulawesi Selatan.

Kehidupan Pribadi

Dalam kehidupan pribadinya, Achmad Rifai menikah dengan Andi Sitti Daulang pada tahun 1952. Pernikahan tersebut telah direncanakan sejak ia kembali ke Sulawesi Selatan pada tahun 1950, karena keduanya telah dijodohkan sebelumnya.

Dari pernikahan tersebut, salah seorang anaknya, A. Siswaka Faizal, diketahui menjabat sebagai Direktur Teknik PT Telkom. 

Wafat

Andi Achmad Rifai Manggabarani wafat pada pukul 11.30 tanggal 6 Februari 2001 di Rumah Sakit Internasional Bintaro, Tangerang. Ia meninggal dunia setelah menjalani perawatan akibat komplikasi usus yang dideritanya.

Jenazahnya kemudian disemayamkan di Rumah Duka Taman Bintaro sebelum diberangkatkan ke Makassar. Pada keesokan harinya, ia dimakamkan di Pekuburan Panaikkang, Makassar.

Atas pengabdiannya dalam bidang militer dan pemerintahan, Achmad Rifai menerima sejumlah tanda jasa. Di antaranya adalah Bintang Gerilya, Medali Kemerdekaan, Medali Penegak G30S/PKI, serta Bintang Sewindu ABRI. Penghargaan-penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk pengakuan atas peran dan kontribusinya selama masa perjuangan dan pengabdiannya kepada negara.

Sumber:

Share Article:

arsipmanusia.com

Writer & Blogger

Considered an invitation do introduced sufficient understood instrument it. Of decisively friendship in as collecting at. No affixed be husband ye females brother garrets proceed. Least child who seven happy yet balls young. Discovery sweetness principle discourse shameless bed one excellent. Sentiments of surrounded friendship dispatched connection is he. Me or produce besides hastily up as pleased. 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baru Terbit

  • All Post
  • Biodata
  • Biografi
  • Blog
  • Daftar Tokoh
  • Lembaga
  • Penghargaan
  • Peristiwa
  • Time Line

Join the family!

Sign up for a Newsletter.

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.

Jenderal AH Nasution

Jenderal Abdul Haris Nasution, lahir pada 3 Desember 1918, adalah sosok kunci dalam sejarah Indonesia yang memberikan kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan negara.

[tokoh_ulang_tahun}
Edit Template

TEAM:

©Maret 2023 – 2025 arsipmanusia.com

Scroll to Top