Dr. H.C. Ali Alatas, S.H. lahir di Batavia (kini Jakarta) pada 4 November 1932 dan wafat di Singapura pada 11 Desember 2008 dalam usia 76 tahun. Ia dikenal sebagai salah satu diplomat Indonesia yang paling berpengaruh dalam sejarah hubungan luar negeri Republik Indonesia.
Ali Alatas mengabdikan sebagian besar hidupnya dalam dunia diplomasi. Perannya sebagai diplomat menempatkannya sebagai figur penting yang mewakili kepentingan Indonesia di berbagai forum regional maupun internasional, termasuk dalam upaya penyelesaian konflik dan perundingan perdamaian antarnegara.
Sepanjang kariernya, Ali Alatas pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia selama periode 1987–1999 di bawah pemerintahan Presiden Soeharto dan Presiden B.J. Habibie. Hingga akhir hayatnya, ia tetap aktif mengemban amanah negara sebagai Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Myanmar, Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia untuk masalah Timur Tengah, serta Ketua Dewan Pertimbangan Presiden.
Table of Contents
ToggleMasa kecil
Ali Alatas lahir dari keluarga yang cukup berpengaruh di lingkungan tempat tinggalnya. Sejumlah teman masa kecilnya mengenang bahwa kakek Ali Alatas merupakan sosok yang terpandang, sehingga mencium tangan orang tua tersebut dianggap sebagai suatu kehormatan dan berkah. Meskipun berasal dari keluarga yang disegani, Ali Alatas tumbuh dan bergaul secara sederhana di lingkungan sekitarnya.
Pada masa kanak-kanak, Ali Alatas lebih menyukai bermain bersama teman-teman sebayanya. Ia kerap menghabiskan waktu di tepian Sungai Ciliwung, di sekitar kawasan Gedung Kumidi atau Gedung Kesenian Pasar Baru. Tidak jarang pula ia menyusuri sungai yang membelah Kota Jakarta tersebut dengan menggunakan rakit sederhana yang terbuat dari batang kayu.
Selain bermain di sungai, Ali Alatas juga dikenal gemar bermain sepak bola di sebuah lapangan di kawasan Cikini. Posturnya yang jangkung membuatnya mudah dikenali di antara teman-temannya. Seorang teman semasa sekolah dasar pernah mengenang bahwa Ali Alatas selalu dapat ditemukan di lapangan bola, karena tinggi badannya yang paling menonjol dibandingkan anak-anak lainnya.
Pendidikan
Pendidikan dasar kediplomatan Ali Alatas diperoleh melalui Akademi Dinas Luar Negeri di Jakarta, yang diselesaikannya pada tahun 1954. Lembaga ini menjadi pijakan awal yang membekalinya dengan pengetahuan dan keterampilan dasar dalam bidang hubungan luar negeri serta tata kerja diplomasi.
Selain menempuh pendidikan kedinasan, Ali Alatas juga melanjutkan studi akademik di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Ia menyelesaikan pendidikan sarjananya pada tahun 1956. Latar belakang pendidikan hukum ini yang menjadi modal utama dalam perjalanan kariernya sebagai diplomat, khususnya dalam perundingan dan penanganan berbagai persoalan internasional.
Pada masa mudanya, Ali Alatas sempat memiliki cita-cita untuk berprofesi sebagai pengacara. Namun, setelah menyelesaikan pendidikannya dan memasuki dunia kerja, arah pengabdiannya beralih ke bidang diplomasi. Sejak saat itu, dunia hubungan internasional dan tugas-tugas kenegaraan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan hidupnya.
Karier Diplomatik Awal
Setelah menyelesaikan pendidikan dan memasuki dunia kerja, Ali Alatas memulai karier diplomatiknya pada tahun 1956. Penugasan luar negeri pertamanya adalah sebagai Sekretaris Kedua di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bangkok, Thailand. Tugas ini dijalaninya hingga tahun 1960 dan menjadi pengalaman pertamanya dalam membangun pemahamannya mengenai praktik diplomasi bilateral.
Usai menyelesaikan penugasan di Bangkok, Ali Alatas kembali ke tanah air dan mulai mengemban berbagai jabatan di lingkungan Departemen Luar Negeri Republik Indonesia. Ia pernah bertugas di Direktorat Ekonomi Antarnegara serta menjabat sebagai Direktur Penerangan dan Hubungan Kebudayaan pada pertengahan dekade 1960-an.
Selain bertugas di dalam negeri, Ali Alatas juga memperoleh pengalaman awal di berbagai perwakilan luar negeri Indonesia.
Perkembangan karier Ali Alatas semakin menonjol ketika ia menjalankan berbagai penugasan di lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Tetap Republik Indonesia untuk PBB di Jenewa pada periode 1976–1978, serta kembali dipercaya sebagai Wakil Tetap Indonesia untuk PBB di New York pada tahun 1983–1987. Ali Alatas terlibat langsung dalam berbagai pembahasan isu internasional yang berkaitan dengan kepentingan negara-negara berkembang.
Selama bertugas di PBB, Ali Alatas aktif dalam menggalang dukungan dan memperkuat peran kelompok G77, yaitu forum negara-negara berkembang. Keterlibatannya dalam kelompok ini memperluas jaringan diplomatik Indonesia sekaligus memperkuat posisi Indonesia di forum multilateral.
Selain perannya di forum internasional, Ali Alatas juga dipercaya mendampingi pejabat tinggi negara di dalam negeri. Ia pernah menjabat sebagai sekretaris Adam Malik ketika tokoh tersebut mengemban jabatan sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia dan kemudian sebagai Wakil Presiden.
Diplomasi Ali Alatas
Pada masalah Timor-Timur, Ali Alatas aktif dalam berdiplomasi untuk menjelaskan posisi pemerintah Indonesia di hadapan Internasional, khususnya forum-forum Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Dalam menjalankan tugasnya, Ali Alatas kerap menghadapi tekanan dan kritik dari berbagai pihak internasional yang menilai masuknya Timor Timur ke dalam wilayah Indonesia sebagai hasil dari sebuah invasi.
Bersama para koleganya, ia melakukan berbagai upaya diplomasi untuk meredam tekanan tersebut dan memperbaiki citra Indonesia melalui jalur perundingan serta komunikasi resmi dengan negara-negara lain dan lembaga internasional. Posisi Indonesia dalam isu ini secara konsisten disampaikannya di berbagai forum internasional, termasuk ketika persoalan Timor Timur dibahas secara resmi oleh PBB.
Dalam menjalankan diplomasi, Ali Alatas dikenal memegang prinsip kehati-hatian dan strategi bertahap. Salah satu pandangannya mengenai diplomasi terekam dalam pernyataannya yang menyamakan diplomasi dengan permainan kartu, di mana tidak semua langkah dan kepentingan ditunjukkan sekaligus, melainkan dijalankan secara bertahap sesuai situasi. Pendekatan ini terlihat ketika ia menangani diplomasi terhadap dinamika dan tekanan internasional terkait isu Timor Timur.
Ali Alatas terlibat dalam upaya penyelesaian konflik di Kamboja. Ia berperan sebagai fasilitator dalam serangkaian pertemuan informal yang dikenal sebagai Jakarta Informal Meeting (JIM), yang mempertemukan pihak-pihak yang bertikai dalam konflik berkepanjangan di negara tersebut. Melalui forum ini, Indonesia sebagai penengah yang mendorong dialog dan jalan damai bagi penyelesaian konflik Kamboja.
Upaya diplomasi tersebut kemudian berlanjut hingga Konferensi Paris untuk Perdamaian Kamboja, di mana Ali Alatas dipercaya sebagai Ketua Bersama. Konferensi ini merupakan kunci keberhasilan dalam proses perdamaian Kamboja setelah konflik yang berlangsung lama dan menelan korban jiwa dalam jumlah besar.
Selain di Kamboja, Ali Alatas juga terlibat dalam proses perundingan antara Pemerintah Filipina dan Moro National Liberation Front (MNLF). Ia juga berperan sebagai fasilitator dan penghubung dalam perundingan yang akhirnya menghasilkan kesepakatan damai pada tahun 1996.
Menteri Luar Negeri
Ali Alatas diangkat sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia pada tahun 1987. Ali Alatas menjabat sebagai Menteri Luar Neger dalam empat kabinet berturut-turut hingga tahun 1999. Ia menjalankan jabatan ini pada masa pemerintahan Presiden Soeharto dan berlanjut hingga era Presiden B.J. Habibie.
Dalam kedudukannya sebagai Menteri Luar Negeri, Ali Alatas menjadi figur utama yang berhadapan langsung dengan tekanan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan komunitas internasional setiap kali persoalan Timor Timur dibahas di forum resmi dunia. Selain itu, ia terlibat dalam berbagai perundingan dan diplomasi multilateral yang berkaitan dengan kepentingan nasional Indonesia di tingkat regional maupun global.
Pengakuan internasional terhadap kiprah Ali Alatas tercermin dari pencalonannya sebagai Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1996. Ia dinominasikan oleh sejumlah negara Asia, terutama berkat perannya dalam memfasilitasi proses perdamaian di Kamboja.
Setelah tidak lagi menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, Ali Alatas tetap mengemban berbagai jabatan penting. Ia dipercaya sebagai Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Myanmar, serta sebagai Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia untuk masalah Timur Tengah.
Selain itu, ia juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden, yang memberinya peran strategis dalam memberikan masukan kebijakan kepada kepala negara.
Dalam masa pemerintahan pascareformasi, Ali Alatas tetap aktif berkontribusi bagi negara. Ia pernah menjabat sebagai Penasihat Presiden untuk Urusan Luar Negeri pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid dan kembali dipercaya dalam peran serupa pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri.
Akhir Hayat
Ali Alatas wafat pada 11 Desember 2008 di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, dalam usia 76 tahun. Ia meninggal dunia akibat serangan jantung. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi bangsa Indonesia, tetapi juga bagi berbagai negara sahabat yang selama ini menjalin hubungan diplomatik dengannya.
Jenazah almarhum dipulangkan ke Tanah Air dan tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Kedatangannya disambut oleh sejumlah pejabat negara, antara lain Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Menteri Sekretaris Negara, Menteri Luar Negeri, serta anggota Dewan Pertimbangan Presiden.
Pemakaman Ali Alatas dilaksanakan secara kenegaraan dan kemiliteran di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Upacara pemakaman dipimpin oleh Komandan Upacara Kolonel Infanteri M. Natsir, dengan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono bertindak sebagai inspektur upacara. Dalam kesempatan tersebut, Presiden membacakan Apel Persada sebagai bentuk penyerahan jiwa dan jasa almarhum kepada Persada Pertiwi.
Dalam sambutannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan bahwa bangsa dan negara Indonesia kehilangan salah satu putra terbaik yang berjasa sebagai diplomat cemerlang, tokoh internasional yang dihormati, dan negarawan terhormat.
Upacara pemakaman tersebut turut dihadiri oleh sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Panglima Tentara Nasional Indonesia, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, para duta besar dan perwakilan negara asing, serta keluarga dan handai taulan almarhum Ali Alatas.
Sumber:
- “Ali Alatas, Diplomat Ulung” tokoh.id (Diakses pada 13 Januari 2026)
- “Singa Tua Diplomat Indonesia” tokoh.id (Diakses pada 13 Januari 2026)
- “Profil Ali Alatas, Menlu Pada Masa Soeharto dan Habibie” tirto.id (Diakses pada 13 Januari 2026)
- “Ali Alatas Calon Kuat Sekjen PBB” www.historia.id (Diakses pada 13 Januari 2026)
- “Mengenal Ali Alatas, Legenda Diplomasi Indonesia yang Dijuluki Singa ASEAN” www.goodnewsfromindonesia.id (Diakses pada 13 Januari 2026)
- “Presiden Pimpin Pemakaman Ali Alatas” setneg.go.id (Diakses pada 13 Januari 2026)
- “Mengenang Ali Alatas, Menlu Legendaris Kemudian Jadi Penasihat Gus Dur hingga Megawati” www.tempo.co (Diakses pada 13 Januari 2026)
- “Ali Alatas: Dari Ahli Hukum Impian Jadi Diplomat Ulung Indonesia” www.infonasional.com (Diakses pada 13 Januari 2026)






