Andi Abdul Azis, seorang perwira militer keturunan Bugis yang memiliki latar belakang berbeda dibanding banyak tokoh militer Indonesia lainnya. Ia pernah terlibat dalam operasi militer Sekutu selama Perang Dunia II dan memperoleh pendidikan militer bergaya Eropa.
Periode Revolusi Nasional Indonesia pada rentang tahun 1945 – 1950 merupakan salah satu fase paling rumit dalam sejarah modern Indonesia. Setelah Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia tidak hanya menghadapi upaya Belanda untuk kembali menguasai wilayah bekas Hindia Belanda, tetapi juga menghadapi konflik internal mengenai bentuk negara yang akan dibangun.
Pada masa transisi, pertentangan antara pendukung negara kesatuan dan kelompok federalis berkembang menjadi ketegangan politik dan militer di berbagai daerah. Situasi ini melahirkan berbagai pergolakan bersenjata yang turut memengaruhi perjalanan awal Republik Indonesia.
Pengalamannya dalam perang internasional membentuk dirinya sebagai prajurit dengan kemampuan tempur dan disiplin militer. Namun, dalam sejarah Indonesia, namanya lebih dikenal melalui peristiwa pemberontakan di Makassar pada April 1950 yang kemudian dikenal sebagai Pemberontakan Andi Azis.
Di satu sisi, Andi Aziz dipandang sebagai seorang prajurit yang memiliki rekam jejak militer internasional dan pernah bertempur melawan pasukan Nazi Jerman dalam Perang Dunia II. Di sisi lain, keterlibatannya dalam gerakan bersenjata yang menolak dominasi pemerintah pusat menjadikannya dicatat sebagai tokoh pemberontakan terhadap Republik Indonesia.
Table of Contents
ToggleAsal Usul dan Kelahiran
Andi Abdul Azis lahir pada 19 September 1924 di Simpangbinangal, sebuah wilayah yang kini termasuk dalam Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.
Lingkungan sosial tempat Andi Azis tumbuh merupakan masyarakat yang masih mempertahankan struktur sosial tradisional Bugis-Makassar. Pada masa kolonial, golongan bangsawan lokal tetap memiliki pengaruh dalam kehidupan masyarakat karena pemerintah Belanda menerapkan sistem pemerintahan tidak langsung dengan melibatkan elit-elit daerah sebagai bagian dari administrasi kolonial.
Kondisi tersebut membuat keluarga bangsawan memperoleh akses sosial, pendidikan, dan hubungan politik yang lebih luas dibanding masyarakat biasa.
Andi Abdul Azis berasal dari keluarga aristokrat Bugis. Gelar “Andi” yang melekat pada namanya merupakan gelar kebangsawanan yang digunakan oleh keturunan bangsawan Bugis-Makassar. Gelar ini menandakan hubungan genealogis dengan keluarga-keluarga elit kerajaan lokal yang sejak lama memiliki kedudukan dalam struktur sosial Sulawesi Selatan.
Keluarga
Dalam kehidupan pribadinya, Andi Abdul Azis menikah dengan seorang perempuan bernama Sabida binti Baso Daeng Marewa. Kehidupan rumah tangga mereka berlangsung sangat dekat dengan dunia militer karena sebagian besar karier Andi Azis dijalani di lingkungan tangsi dan asrama tentara. Selama bertugas sebagai komandan kompi di Makassar, ia tinggal bersama istri dan anak-anaknya di kawasan militer bersama keluarga para prajurit lainnya.
Sabida penting dalam kehidupan Andi Azis, terutama ketika suaminya menghadapi proses hukum setelah peristiwa Makassar tahun 1950. Pada masa penahanan dan persidangan militer, Sabida berupaya memperjuangkan pengurangan hukuman suaminya melalui jalur permohonan grasi kepada Presiden Soekarno.
Pendidikan
Pada awal dekade 1930-an, Andi Abdul Aziz dibawa ke Belanda, saat itu usianya masi 9 tahun. Ia dibawa oleh seorang pensiunan pejabat kolonial Belanda berpangkat Asisten Residen yang kemudian membawanya menetap di Eropa.
Perjalanan ke Belanda bukan sekadar perpindahan tempat tinggal, melainkan juga bagian dari pola pendidikan kolonial yang diterapkan pemerintah Hindia Belanda terhadap anak-anak bangsawan pribumi. Pada masa itu, sejumlah keluarga aristokrat lokal diberi kesempatan memperoleh pendidikan di Eropa agar tumbuh menjadi golongan elit terdidik yang dekat dengan sistem pemerintahan kolonial.
Lingkungan pendidikan dan kehidupan yang dijalani Andi Azis di Belanda membuatnya lebih banyak bersentuhan dengan budaya Barat dibanding kehidupan tradisional Bugis yang ditinggalkannya di Sulawesi.
Selama bertahun-tahun Andi Azis terpisah dari kedua orang tuanya yang tetap tinggal di Palopo, Sulawesi Selatan. Keterasingan dari keluarga dan tanah kelahirannya membentuk pengalaman hidup yang berbeda dibanding kebanyakan pemuda Indonesia pada masa itu. Masa remajanya dihabiskan di tengah lingkungan Eropa yang sedang menghadapi ketegangan politik menjelang Perang Dunia II.
Pendidikan Militer
Pada tahun 1935 ia mulai menempuh pendidikan di Leger School, sebuah sekolah yang berorientasi pada pendidikan militer dasar. Sekolah ini tidak hanya mengajarkan pelajaran umum, tetapi juga menanamkan nilai kedisiplinan, ketertiban, hierarki, dan loyalitas yang kuat terhadap institusi militer.
Pendidikan di Leger School dijalaninya hingga tahun 1938. Setelah itu, Andi Azis melanjutkan pendidikan ke tingkat Lyceum. Ia menempuh pendidikan menengah tersebut hingga tahun 1944. Masa pendidikan di Lyceum berlangsung di tengah situasi Eropa yang semakin tidak stabil akibat berkembangnya konflik perang di berbagai wilayah Eropa.
Andi Azis tumbuh dalam budaya yang sangat menghargai ketepatan, disiplin, kemampuan organisasi, dan kepatuhan terhadap struktur komando. Nilai-nilai itu kemudian terlihat dalam perjalanan militernya, terutama dalam kemampuan taktis dan kedisiplinan yang membuatnya dikenal sebagai perwira dengan kualitas tempur tinggi.
Selain pendidikan formal, kehidupan di Eropa juga memperkenalkan Andi Azis pada budaya militer modern yang berbeda jauh dengan pengalaman masyarakat Indonesia pada masa kolonial.
Sejak masa remaja, Andi Abdul Azis memiliki keinginan kuat untuk berkarier sebagai tentara profesional. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di Belanda, ia bercita-cita melanjutkan pendidikan ke akademi militer resmi agar dapat menjadi perwira militer profesional di lingkungan angkatan bersenjata Belanda.
Namun, rencana tersebut tidak pernah terwujud sepenuhnya karena situasi politik dunia berubah secara drastis. Meletusnya Perang Dunia II dan invasi Jerman Nazi ke Belanda menghancurkan stabilitas kehidupan di Eropa. Sistem pendidikan sipil maupun militer mengalami gangguan besar akibat perang, termasuk rencana pendidikan yang ingin ditempuh Andi Azis.
Kondisi perang memaksanya memasuki dunia militer secara langsung tanpa melalui jalur akademi yang sebelumnya diimpikannya. Pengalaman perang kemudian membentuk kemampuan tempur dan kepemimpinan yang menjadikannya salah satu perwira dengan pengalaman internasional pada masa awal kemerdekaan Indonesia.
Perang Dunia II
Bergabung dengan Militer Belanda
Ketika Jerman Nazi menduduki Belanda pada tahun 1940, Andi Abdul Azis memilih terlibat dalam perlawanan terhadap pasukan pendudukan. Ia bergabung dengan Koninklijk Leger (Tentara Kerajaan Belanda) dan menjadi bagian dari jaringan operasi bawah tanah yang bergerak melawan kekuatan Jerman.
Dalam masa perang tersebut, Andi Azis tidak bertugas sebagai prajurit infanteri biasa. Ia terlibat dalam operasi-operasi sabotase dan infiltrasi yang dilakukan secara rahasia di wilayah pendudukan Nazi. Aktivitas pasukan bawah tanah meliputi penghancuran jalur suplai, gangguan komunikasi militer, pengumpulan informasi intelijen, hingga operasi penyusupan di belakang garis pertahanan musuh.
Pengalaman ini membuat Andi Azis terbiasa dengan taktik perang tidak konvensional. Ia menjalani operasi berisiko tinggi yang menuntut kemampuan bergerak secara cepat, senyap, dan terorganisasi. Pengalaman tempur di Eropa inilah yang kemudian membentuk reputasinya sebagai prajurit dengan kemampuan komando dan taktik lapangan.
Pelarian ke Inggris dan Pendidikan Komando
Situasi perang yang semakin berat di Eropa membuat Andi Azis dan kelompoknya harus meninggalkan wilayah pendudukan Jerman. Mereka melakukan pelarian menuju Inggris dengan menyeberangi Selat Inggris di tengah ancaman patroli udara dan laut Jerman.
Setelah tiba di Inggris, Andi Azis mengikuti pendidikan pasukan komando militer Inggris. Pelatihan tersebut dikenal sangat keras karena dirancang untuk membentuk prajurit khusus yang mampu menjalankan operasi sabotase, infiltrasi, dan perang gerilya.
Dalam pendidikan tersebut para peserta dilatih menghadapi situasi ekstrem, termasuk operasi malam, pertempuran jarak dekat, hingga strategi bertahan hidup di wilayah musuh.
Andi Azis berhasil menyelesaikan pendidikan komando itu dengan hasil yang sangat baik. Ia bahkan tercatat lulus dengan predikat pujian. Selain itu, pada tahun 1945 ia juga menyelesaikan pendidikan Sekolah Kandidat Bintara dan memperoleh pangkat Sersan Taruna.
Penugasan di Asia Tenggara
Setelah perang di Eropa mulai berakhir dan Jerman menyerah kepada Sekutu, fokus operasi militer dialihkan ke kawasan Asia dan Pasifik untuk menghadapi Jepang. Dalam situasi tersebut, Andi Abdul Azis ditempatkan di bawah South East Asia Command (SEAC), komando militer Sekutu yang bertanggung jawab atas kawasan Asia Tenggara.
Penugasannya membawa Andi Azis berpindah ke berbagai pangkalan militer Sekutu di wilayah Asia Selatan, terutama di Colombo, Ceylon (Sri Lanka), serta Calcutta di India. Di kawasan tersebut ia menjalankan tugas yang berkaitan dengan persiapan operasi militer dan dukungan terhadap kegiatan Sekutu di wilayah Asia Tenggara.
Sebagai seorang prajurit yang menguasai bahasa Melayu dan Belanda serta memiliki pengalaman tempur di Eropa, Andi Azis dianggap memiliki kemampuan yang berguna dalam operasi Sekutu di kawasan Asia. Ia menjalankan tugas sebagai bagian dari personel militer yang dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan operasi lanjutan melawan Jepang.
Namun setelah Jepang menyerah pada Agustus 1945, operasi perang besar dihentikan. Dalam masa transisi tersebut, Andi Azis diberikan pilihan untuk melanjutkan penugasan bersama pasukan Sekutu di Jepang atau kembali ke Indonesia. Setelah bertahun-tahun terpisah dari keluarganya di Sulawesi Selatan, ia memilih kembali ke tanah air.
Pemberontakan Andi Azis
Memasuki tahun 1950, situasi politik di Indonesia semakin memanas akibat munculnya tuntutan untuk membubarkan negara-negara bagian bentukan Belanda dan mengembalikannya ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di wilayah Indonesia Timur, terutama di Makassar sebagai ibu kota NIT, ketegangan antara kelompok federalis dan pendukung negara kesatuan semakin terbuka.
Kelompok federalis khawatir bahwa penghapusan sistem federal akan membuat kekuasaan terpusat sepenuhnya di Jakarta. Di sisi lain, pemerintah pusat berupaya mempercepat proses integrasi nasional setelah terbentuknya Republik Indonesia Serikat.
Situasi semakin tegang ketika pemerintah pusat memutuskan mengirim pasukan APRIS dan TNI dari Jawa ke Makassar. Kehadiran pasukan ini dipandang oleh sebagian eks-KNIL sebagai ancaman terhadap keberadaan Negara Indonesia Timur dan posisi mereka dalam struktur militer baru.
Bagi Andi Abdul Azis dan sejumlah perwira eks-KNIL lainnya, kedatangan pasukan APRIS dianggap sebagai bentuk intervensi pusat yang dapat menghilangkan pengaruh kelompok federalis di Indonesia Timur.
Pembentukan Pasukan Bebas
Sebagai respons terhadap situasi tersebut, Andi Abdul Azis mulai mengonsolidasikan mantan pasukan KNIL yang menolak dominasi pemerintah pusat. Ia membentuk kelompok bersenjata yang dikenal sebagai Pasukan Bebas (Vrije Strijders).
Pasukan ini terdiri atas eks-prajurit KNIL yang masih memiliki loyalitas terhadap Negara Indonesia Timur dan merasa khawatir terhadap masuknya unsur-unsur TNI dari Jawa. Konsolidasi tersebut dilakukan dengan tujuan mempertahankan stabilitas NIT serta menghalangi pengaruh pemerintah pusat di Makassar.
Dalam perkembangannya, gerakan tersebut tidak hanya menjadi aksi militer biasa, tetapi juga berubah menjadi bentuk perlawanan terhadap proses integrasi nasional yang sedang dijalankan pemerintah Republik Indonesia Serikat.
Operasi Penguasaan Makassar
Pada 5 April 1950, Andi Abdul Azis memimpin operasi militer di Makassar. Operasi tersebut dilaksanakan pada pagi hari dengan sasaran utama instalasi militer APRIS dan TNI di kota Makassar.
Pasukan yang dipimpinnya bergerak cepat untuk menguasai sejumlah titik strategis, termasuk markas militer dan fasilitas keamanan. Dalam operasi itu terjadi baku tembak antara pasukan Andi Azis dan unsur TNI yang berada di Makassar.
Keunggulan pengalaman tempur pasukan eks-KNIL membuat mereka mampu mengendalikan situasi dalam waktu singkat. Sejumlah perwira TNI berhasil ditangkap dan dijadikan tawanan. Penyanderaan ini dilakukan sebagai upaya menekan pemerintah pusat agar membatalkan pengiriman pasukan tambahan ke Makassar.
Pada hari yang sama, sebagian besar wilayah strategis kota Makassar berhasil dikuasai oleh Pasukan Bebas di bawah pimpinan Andi Azis.
Runtuhnya Dukungan Politik
Meskipun berhasil menguasai Makassar secara militer, gerakan Andi Azis segera menghadapi masalah politik yang serius. Pemerintah Negara Indonesia Timur tidak memberikan dukungan resmi terhadap tindakan tersebut.
Perdana Menteri NIT, P.D. Diapari, secara terbuka menyatakan bahwa pemerintah NIT tidak terlibat dan tidak mendukung aksi militer Andi Azis. Sikap tersebut membuat legitimasi politik gerakannya semakin melemah. Tidak lama kemudian, kabinet NIT juga mengalami perubahan politik yang semakin mendekatkan pemerintah daerah tersebut kepada Republik Indonesia.
Di Jakarta, pemerintah pusat merespons peristiwa Makassar dengan mengirim operasi militer besar-besaran. Pasukan APRIS dikerahkan ke Sulawesi Selatan di bawah komando Kolonel Alexander Evert Kawilarang dan Letnan Kolonel Soeharto.
Kehadiran ribuan pasukan pemerintah pusat membuat posisi Andi Azis semakin terdesak. Pasukan yang dipimpinnya tidak memiliki kekuatan logistik dan dukungan politik yang cukup untuk menghadapi operasi militer berskala besar.
Penyerahan Diri dan Penangkapan
Pada 8 April 1950, pemerintah pusat mengeluarkan ultimatum kepada Andi Abdul Azis. Ia diperintahkan untuk menghentikan perlawanan, menyerahkan senjata, serta datang ke Jakarta untuk mempertanggungjawabkan tindakannya.
Menghadapi tekanan militer yang semakin besar dan minimnya dukungan politik, Andi Azis akhirnya memutuskan menghentikan perlawanan. Pada 13 April 1950 ia memerintahkan pasukannya kembali ke barak dan menyerahkan persenjataan mereka.
Setelah itu Andi Azis berangkat ke Jakarta untuk memenuhi panggilan pemerintah pusat. Dalam perjalanannya, ia didampingi sejumlah tokoh dari lingkungan NIT, termasuk kerabatnya Andi Patoppoi dan beberapa pejabat lainnya. Sesampainya di Pangkalan Udara Kemayoran, Jakarta, Andi Azis langsung ditangkap oleh Polisi Militer.
Penahanan
Sidang Mahkamah Militer
Setelah ditangkap di Jakarta pasca-peristiwa Makassar tahun 1950, Andi Abdul Azis menjalani masa penahanan yang cukup panjang sebelum akhirnya diadili di pengadilan militer. Proses hukum terhadap dirinya baru dilaksanakan secara resmi pada tahun 1953 di Mahkamah Militer Wirogunan, Yogyakarta.
Dalam persidangan itu, pemerintah menuduh Andi Azis melakukan pemberontakan terhadap negara melalui aksi bersenjata di Makassar. Sidang menghadirkan sejumlah tokoh penting dari lingkungan Negara Indonesia Timur sebagai saksi, termasuk mantan Presiden NIT Tjokorda Gde Raka Soekawati dan beberapa pejabat militer lainnya yang sebelumnya pernah memiliki hubungan kerja dengan Andi Azis.
Kesaksian para tokoh tersebut tidak memberikan pembelaan yang berarti bagi dirinya. Sebaliknya, berbagai keterangan yang muncul dalam persidangan semakin memperkuat posisi pemerintah bahwa tindakan yang dilakukan Andi Azis merupakan bentuk perlawanan terhadap otoritas negara.
Di hadapan pengadilan militer, Andi Abdul Azis bersikap cukup kooperatif. Ia mengakui keterlibatannya dalam operasi militer di Makassar dan menerima proses hukum yang dijalankan terhadap dirinya. Setelah melalui rangkaian persidangan, Mahkamah Militer Yogyakarta menjatuhkan vonis hukuman penjara selama 14 tahun atas tuduhan pemberontakan dan tindakan makar terhadap negara.
Perjuangan Sabida
Di tengah masa sulit yang dihadapi Andi Abdul Azis, istrinya, Sabida berupaya mencari jalan hukum dan politik agar hukuman tersebut dapat diringankan.
Pada tahun 1953, Sabida memberanikan diri menghadap langsung Presiden Soekarno di Jakarta untuk memohon grasi bagi suaminya. Langkah ini merupakan tindakan yang cukup berani mengingat Andi Azis saat itu berstatus sebagai terpidana kasus pemberontakan terhadap Republik Indonesia.
Dalam pertemuan tersebut, Sabida memohon agar pemerintah mempertimbangkan pengurangan hukuman dengan melihat latar belakang perjuangan dan kondisi keluarganya. Permohonan tersebut akhirnya memperoleh tanggapan dari pemerintah. Meskipun hukuman resminya tetap 14 tahun penjara, masa tahanan Andi Azis kemudian dikurangi melalui kebijakan grasi dan pertimbangan politik pada masa itu.
Andi Abdul Azis akhirnya memperoleh pembebasan bersyarat pada tahun 1958 setelah menjalani sekitar delapan tahun masa penahanan. Meski telah bebas, statusnya sebagai mantan tahanan politik membuatnya tetap berada dalam pengawasan pemerintah dan diwajibkan melakukan laporan rutin kepada aparat keamanan dalam jangka waktu tertentu.
Bebas
Setelah memperoleh pembebasan bersyarat pada tahun 1958, Andi Abdul Azis memilih menetap di Jakarta. Masa bebasnya menandai berakhirnya keterlibatan langsung dirinya dalam dunia militer maupun politik praktis. Status sebagai mantan tahanan politik membuat ruang geraknya dalam pemerintahan dan institusi keamanan praktis tertutup.
Selama beberapa tahun setelah bebas, kehidupannya berlangsung relatif jauh dari sorotan publik. Ia hidup lebih tenang dan berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan sipil setelah sebelumnya menghabiskan sebagian besar hidupnya di lingkungan militer dan konflik bersenjata.
Hubungannya dengan tanah kelahirannya di Sulawesi Selatan juga mengalami perubahan. Dalam waktu yang cukup lama setelah pembebasannya, Andi Azis tidak kembali ke Sulawesi Selatan. Baru pada dekade 1970-an, ketika situasi politik nasional mulai lebih stabil, ia mulai beberapa kali melakukan kunjungan singkat ke daerah asalnya.
Karier Bisnis
Setelah meninggalkan dunia militer, Andi Abdul Azis mulai menjalani kehidupan baru di sektor swasta. Ia kemudian bergabung dengan perusahaan pelayaran Samudera Indonesia, salah satu perusahaan maritim besar di Indonesia pada masa itu.
Kesempatan tersebut diperolehnya melalui hubungan dengan Soedarpo Sastrosatomo, seorang tokoh nasionalis dan pengusaha yang dikenal sebagai pendiri Samudera Indonesia. Soedarpo sebelumnya pernah aktif sebagai diplomat dan pejuang kemerdekaan sebelum membangun jaringan bisnis pelayaran nasional.
Di lingkungan perusahaan tersebut, Andi Azis menjalani kehidupan yang jauh berbeda dibanding masa lalunya sebagai perwira militer. Disiplin dan kemampuan organisasinya yang terbentuk selama bertahun-tahun di dunia militer dimanfaatkan dalam pekerjaan di sektor bisnis maritim.
Sejak saat itu kehidupannya berlangsung lebih tenang dan cenderung menjauh dari aktivitas politik. Ia memilih menjalani masa tua secara lebih tertutup dan tidak lagi terlibat dalam dinamika konflik politik nasional.
Akhir Hayat
Memasuki usia lanjut, kondisi kesehatan Andi Abdul Azis mulai menurun. Ia diketahui mengalami gangguan pada pembuluh jantung yang memengaruhi kesehatannya dalam beberapa tahun terakhir kehidupannya.
Penyakit itu akhirnya berkembang menjadi serangan jantung yang serius. Pada 30 Januari 1984, Andi Abdul Azis meninggal dunia di Rumah Sakit Husada, Jakarta, dalam usia 59 tahun.
Meskipun sebagian besar masa dewasanya dijalani di luar Sulawesi Selatan, keluarga tetap memutuskan untuk memulangkan jenazah Andi Abdul Azis ke tanah kelahirannya di Sulawesi Selatan.
Jenazahnya diterbangkan dari Jakarta dan dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga besar keturunan Andi Djuanna Daeng Maliungan di Desa Tuwung, Kabupaten Barru. Pemakaman tersebut menjadi simbol kembalinya Andi Azis ke lingkungan genealogis dan tanah Bugis yang menjadi asal keluarganya.
Sumber:
- Ginanjar, Raden Putri Alpadillah. “Latar Belakang Terjadinya Pemberontakan Andi Azis dan Kronologinya.” Tempo.co, 2023. (Diakses pada 27 Mei 2026)
- Ningsih, Widya Lestari. “Andi Azis: Kiprah di Eropa, Memimpin Pemberontakan, dan Nasibnya.” Kompas.com, 20 Sep. 2024. (Diakses pada 27 Mei 2026)
- Matanasi, Petrik. “Buta Politik dan Diperalat, Andi Azis pun Memberontak.” Tirto.id, 4 Apr. 2017. (Diakses pada 27 Mei 2026)
- Buhari, Bustan. “Pergolakan Andi Azis di Makassar.” Tebar Science: Jurnal Kajian Sosial dan Budaya, vol. 1, no. 1, Sept. 2017, pp. 35-42. (Diakses pada 27 Mei 2026)
- Bahtiar, Ansaar, dan Sritimuryati. “PERISTIWA ANDI AZIS DI SULAWESI SELATAN 5 APRIL 1950.” Seminar Series in Humanities and Social Sciences, no. 1, 2019, hlm. 1-20. (Diakses pada 27 Mei 2026)






