Edit Template

Leo Soekoto: Uskup Agung Jakarta

Leo Soekoto merupakan seorang imam Serikat Yesus (SJ) yang kemudian menjabat sebagai Uskup Agung Jakarta pada periode 1970 – 1995. Sebagai pemimpin Gereja Katolik di ibu kota Indonesia, ia mengembangkan kehidupan pastoral, organisasi gerejawi, serta pembinaan umat di lingkungan perkotaan yang terus berkembang. 

Masa kepemimpinannya ditandai dengan berbagai inisiatif yang berfokus pada penataan struktur Gereja, penguatan pelayanan sosial, serta penyesuaian pendekatan pastoral terhadap kehidupan masyarakat.

Leo Soekoto ikut membangun sejarah Gereja Katolik Indonesia, terkhusus pada perkembangan Keuskupan Agung Jakarta. Ia memperluas jangkauan pelayanan Gereja melalui pembentukan paroki-paroki baru, pengembangan Dewan Pastoral, serta perintisan bentuk pelayanan kategorial yang menyesuaikan kebutuhan umat di wilayah kota. 

Latar Belakang Keluarga

Leo Soekoto lahir pada 23 Oktober 1920 di Desa Jali, Kelurahan Gayamharjo, Kecamatan Prambanan, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia berasal dari lingkungan pedesaan dan merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ayahnya bernama Wongsosentono dan menjabat sebagai lurah Desa Gayamharjo, ibunya bernama Soeratinah.

Masa kecil Leo Soekoto digambarkan sederhana dan dekat dengan kehidupan pedesaan. Ia diketahui pernah menggembalakan kambing sewaktu kecil.

Pendidikan

Pendidikan awal Leo Soekoto dimulai di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Kidulloji, Yogyakarta. Pada masa ini mulai tumbuh keinginan dalam dirinya untuk menjadi “gembala umat.” Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, ia melanjutkan pembinaan di Seminari Menengah di Jalan Code (kini Jalan Abubakar Ali), Yogyakarta. Di sini ia menjalani pendidikan selama enam tahun sebagai bagian dari persiapan menuju kehidupan imamat.

Keinginan Leo Soekoto untuk bergabung dengan Serikat Yesus (SJ) sebenarnya telah muncul sejak awal 1940-an. Ia berencana memasuki masa novisiat pada tahun 1943, namun situasi pendudukan Jepang di Indonesia pada masa itu menghambat realisasi rencana tersebut. 

Setelah kondisi memungkinkan, ia akhirnya resmi masuk Serikat Yesus di Girisonta pada 7 September 1945. Ia kemudian menjalani masa novisiat selama dua tahun dan menyelesaikannya pada 7 September 1947.

Setelah menyelesaikan masa novisiat, Leo Soekoto melanjutkan pendidikan teologi di Maastricht, Belanda, yang dimulai pada tahun 1950 dan berlangsung selama kurang lebih empat tahun. Dalam periode ini, ia dipersiapkan untuk menerima tahbisan imamat. Ia kemudian ditahbiskan sebagai imam Serikat Yesus di Maastricht pada 22 Agustus 1953.

Sesudah tahbisan, ia melanjutkan studi lanjutan sebagai bagian dari pengembangan keilmuan dan formasi religiusnya. Pada tahun 1955, ia melanjutkan studi di Universitas Gregoriana di Roma dengan mengambil bidang teologi moral. Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, ia kembali ke Indonesia pada tahun 1958 untuk memulai karya pelayanannya. 

Karier Awal 

Pengajar dan Rektor Seminari

Pada awal karier pelayanannya di Indonesia, Leo Soekoto terlibat dalam bidang pendidikan imam. Pada tahun 1960, ia ditunjuk sebagai pengajar teologi moral dan hukum Gereja di Seminari Tinggi Yogyakarta. Sebagai pengajar, ia melakukan pembinaan intelektual dan spiritual para calon imam.

Selanjutnya, pada 29 Juni 1962, ia diangkat menjadi Rektor Seminari Tinggi Yogyakarta. Jabatan tersebut dienbannya selama kurang lebih empat tahun, di mana ia bertanggung jawab atas pengelolaan lembaga pendidikan sekaligus pembinaan para seminaris dalam aspek akademik maupun kehidupan religius.

Pelayanan di Keuskupan Agung Jakarta

Setelah menjalani pelayanan di bidang pendidikan, Leo Soekoto kemudian memasuki struktur kepemimpinan Gereja di Keuskupan Agung Jakarta. Pada 15 November 1966, ia diangkat sebagai Sekretaris Keuskupan Agung Jakarta, sebuah posisi administratif dalam pengelolaan keuskupan.

Tidak lama kemudian, pada 25 November 1967, ia dipercaya untuk menjabat sebagai Vikaris Jenderal. Dalam jabatan ini, ia menjadi wakil uskup dalam menjalankan tugas-tugas pastoral dan administratif keuskupan. Selain itu, ia juga melayani sebagai Pastor Paroki di wilayah Blok B, Kebayoran Baru.

Uskup Agung

Pengangkatan sebagai Uskup Agung Jakarta

Pengangkatan Leo Soekoto sebagai Uskup Agung Jakarta diawali dengan pemberitahuan resmi dari Sri Paus yang diterimanya pada 25 Mei 1970. Ia kemudian mulai menjalankan tugasnya sebagai Uskup Agung Jakarta pada 1 Juli 1970.

Tahbisan uskup dilaksanakan pada 15 Agustus 1970 di Istora Senayan, Jakarta. Dalam upacara tersebut, ia ditahbiskan oleh Justinus Kardinal Darmojuwono sebagai penahbis utama, dengan didampingi oleh Mgr. Adrianus Djajasepoetra, SJ dan Mgr. Paul Sani Kleden, SVD sebagai ko-konsekrator. Tahbisan ini meneguhkan secara resmi pelayanannya sebagai pemimpin Gereja di Keuskupan Agung Jakarta.

Sebagai uskup, ia memilih motto episkopal “Scio Cui Credidi,” yang dapat diterjemahkan sebagai “Aku tahu kepada siapa aku percaya.” Moto ini dikaitkan dengan ayat Kitab Suci 2 Timotius 1:12 dan merupaakan dasar iman yang menjadi pedoman dalam pelayanannya.

Lambang uskup yang digunakannya memuat sejumlah unsur simbolik, antara lain perisai dengan salib, gambar kepala singa yang merujuk pada nama “Leo,” serta elemen “jali” yang mengacu pada tempat asalnya. Pada bagian bawah lambang terdapat pita yang memuat motto episkopal tersebut sebagai penegasan identitas spiritualnya.

Kepemimpinan Pastoral dan Karya Utama

Selama masa kepemimpinannya sebagai Uskup Agung Jakarta, Leo Soekoto melakukan berbagai upaya penataan organisasi Gereja guna menyesuaikan pelayanan dengan kebutuhan umat. 

Salah satu langkah yang diambil adalah pembentukan Dewan Pastoral sebagai badan penasihat yang melibatkan unsur rohaniwan dan awam. Kehadiran dewan ini dimaksudkan untuk memperkuat partisipasi umat dalam kehidupan Gereja serta mendukung proses pengambilan keputusan pastoral.

Di bidang sosial, ia juga mendorong pengembangan karya sosial keuskupan sebagai bagian dari perwujudan iman dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, selama masa kepemimpinannya didirikan lebih dari sepuluh paroki baru, hal ini merupakan bentuk upaya perluasan jangkauan pelayanan Gereja di wilayah Keuskupan Agung Jakarta.

Pada periode 1989 – 1991, Keuskupan Agung Jakarta menyelenggarakan Sinode pertama sebagai forum refleksi dan penataan arah pastoral. Latar belakang penyelenggaraan sinode ini berkaitan dengan kesadaran bahwa pelayanan berbasis paroki teritorial saja belum mampu menjangkau seluruh umat, khususnya dalam konteks kehidupan masyarakat perkotaan yang kompleks.

Hasil dari sinode tersebut mendorong pengembangan model pelayanan kategorial, yaitu bentuk pelayanan yang ditujukan kepada kelompok-kelompok tertentu berdasarkan kondisi dan kebutuhan hidup mereka, seperti pekerja, mahasiswa, maupun profesional. Pendekatan ini menjadi salah satu bentuk pengembangan pastoral di wilayah perkotaan.

Dalam bidang pembinaan rohani, Leo Soekoto turut mendukung perkembangan gerakan Pembaruan Karismatik Katolik di Keuskupan Agung Jakarta. Inisiatif ini dimulai pada tahun 1976 melalui pembentukan wadah pelayanan yang secara khusus memfasilitasi kegiatan persekutuan doa. Untuk mendukung pembinaan rohani itu, ia mengundang tenaga pastoral yang kompeten untuk mendampingi perkembangan gerakan ini di tengah umat.

Perhatian terhadap pembinaan panggilan imam diwujudkan dengan terlibat dalam pengembangan lembaga pendidikan seminari. Salah satunya adalah dalam peresmian Seminari Menengah Wacana Bhakti, yang selesai dibangun pada tahun 1987 dan diresmikan pada 3 November 1988.

Dalam arah pastoralnya, Leo Soekoto menekankan pentingnya kesaksian hidup sebagai sarana utama dalam menarik perhatian terhadap iman. Dalam salah satu surat gembala yang disampaikan pada tahun 1991, ditegaskan bahwa ketertarikan seseorang terhadap iman tidak semata-mata muncul dari pembacaan Kitab Suci, melainkan juga dari teladan nyata dalam kehidupan umat, seperti sikap rendah hati dan keterlibatan dalam memperjuangkan keadilan serta hak asasi manusia.

Pengembangan pelayanan juga terlihat dalam perhatian terhadap kelompok mahasiswa. Dalam dinamika pelayanan di Keuskupan Agung Jakarta, muncul bentuk pelayanan yang tidak lagi terikat secara ketat pada wilayah paroki, melainkan berfokus pada kelompok tertentu dengan kebutuhan khas. Salah satu contohnya adalah pelayanan bagi mahasiswa yang kemudian dikenal dengan sebutan “Paroki Mahasiswa.” 

Selain menjalankan tugas sebagai Uskup Agung Jakarta, Leo Soekoto juga menerima tanggung jawab tambahan dalam lingkup Gereja. Pada 17 Juli 1993, ia ditunjuk sebagai Administrator Apostolik untuk Keuskupan Bogor dengan status ad nutum Sanctae Sedis. Penugasan ini mengharuskannya menjalankan kepemimpinan sementara di keuskupan tersebut hingga diangkatnya uskup definitif berikutnya.

Dalam kapasitasnya sebagai pemimpin Gereja, ia juga melakukan penahbisan uskup lain. Salah satu contohnya adalah ia terlibat pada penahbisan Mgr. Michael Angkur sebagai Uskup Bogor pada 23 Oktober 1994. 

Kehidupan Pribadi

Sebagai seorang imam religius dalam Serikat Yesus (SJ), Leo Soekoto menjalani kehidupan selibat sesuai dengan disiplin Gereja Katolik ritus Latin dan kaul religius yang diikrarkannya. Status ini berarti ia tidak memiliki pasangan maupun anak, dan seluruh hidupnya diabdikan untuk pelayanan Gereja.

Pensiun dan Akhir Hayat

Leo Soekoto mengakhiri masa jabatannya sebagai Uskup Agung Jakarta dengan memasuki masa pensiun pada 10 November 1995. Setelah pensiun, ia menghabiskan waktu di Girisonta, Jawa Tengah, yang dikenal sebagai salah satu pusat kehidupan komunitas Serikat Yesus di Indonesia.

Ia wafat pada 30 Desember 1995 di RS Santa Elisabeth, Semarang  pada usia 75 tahun, akibat penyakit kanker sumsum tulang belakangJenazahnya kemudian dimakamkan di Girisonta, sesuai dengan tradisi pemakaman anggota Serikat Yesus. Tempat ini menjadi lokasi peristirahatan terakhir bagi banyak anggota ordo yang telah mengabdikan hidupnya dalam pelayanan Gereja.

Penghargaan

Pada tahun 1970, dalam rangka kunjungan Paus Paulus VI ke Indonesia, ia menerima hadiah berupa mitra dan tongkat gembala yang digunakan oleh Paus. Pemberian ini merupakan salah satu simbol pengakuan atas kedudukannya sebagai Uskup Agung Jakarta pada masa itu.

Selain itu, namanya juga diabadikan sebagai penanda ruang pertemuan, seperti “Aula Leo Soekoto” yang digunakan dalam berbagai kegiatan gerejawi dan sosial. Penggunaan nama ini merupakan bentuk penghormatan institusional terhadap kontribusinya pada kehidupan Gereja.

Sumber:

Share Article:

arsipmanusia.com

Writer & Blogger

Considered an invitation do introduced sufficient understood instrument it. Of decisively friendship in as collecting at. No affixed be husband ye females brother garrets proceed. Least child who seven happy yet balls young. Discovery sweetness principle discourse shameless bed one excellent. Sentiments of surrounded friendship dispatched connection is he. Me or produce besides hastily up as pleased. 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baru Terbit

  • All Post
  • Biodata
  • Biografi
  • Blog
  • Daftar Tokoh
  • Lembaga
  • Penghargaan
  • Peristiwa
  • Time Line

Join the family!

Sign up for a Newsletter.

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.

Jenderal AH Nasution

Jenderal Abdul Haris Nasution, lahir pada 3 Desember 1918, adalah sosok kunci dalam sejarah Indonesia yang memberikan kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan negara.

[tokoh_ulang_tahun}
Edit Template

Terbaru

TEAM:

©Maret 2023 – 2025 arsipmanusia.com

Scroll to Top