Adam Malik dikenal sebagai jurnalis, diplomat, politisi, sekaligus Wakil Presiden Republik Indonesia ketiga. Ia berperan cukup besar, mulai dari masa perjuangan kemerdekaan hingga era pembangunan di bawah pemerintahan Orde Baru. Selain aktif di bidang politik, ia juga dikenal sebagai salah satu pendiri Kantor Berita Antara dan pernah menjabat sebagai Presiden Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Table of Contents
ToggleLatar Belakang Keluarga dan Masa Kecil
Adam Malik Batubara lahir di Pematang Siantar, Sumatra Utara, pada 22 Juli 1917. Ia merupakan anak ketiga dari enam bersaudara, putra pasangan Haji Abdul Malik Batubara dan Salamah Malik. Dalam otobiografinya Mengabdi Republik, Adam Malik menggambarkan bahwa ia lahir dalam keluarga berada yang hidup berkecukupan. Ayahnya dikenal sebagai salah satu saudagar kaya di Pematang Siantar, bahkan keluarganya tercatat sebagai pemilik mobil sedan Buick pertama di kota itu, simbol status sosial tinggi pada zamannya.
Lingkungan keluarga Adam Malik kental dengan nilai-nilai keagamaan. Sang ayah, Haji Abdul Malik, adalah pedagang ulet yang tekun berusaha dan taat beribadah. Ia dikenal disiplin, sederhana, dan sangat menghargai kopiah yang selalu melekat di kepalanya. Ibunya, Salamah, adalah seorang wanita salehah yang menjadi teladan dalam hal ketaatan beragama. Suasana rumah mereka penuh dengan kebiasaan beribadah. Setiap hari, Adam Malik bersama keluarganya rutin melaksanakan salat Magrib, Isya, dan Subuh berjamaah. Seusai ibadah, ia biasanya duduk tertib untuk mengaji bersama ayah dan ibunya.
Sejak kecil, Adam Malik terbiasa membantu usaha dagang ayahnya. Haji Abdul Malik memiliki toko yang menjual kain, sarung, serta barang kelontong. Karena keuletannya, ia mampu mendirikan toko tambahan yang diberi nama Toko Moerah. Toko ini kemudian dipercayakan kepada Adam Malik untuk dikelola. Pengalaman tersebut membuat Adam Malik terbiasa bekerja keras sejak usia muda. Namun, meski sibuk berdagang, ia tidak pernah lepas dari kebiasaan membaca. Salah satu koran yang menjadi bacaan wajibnya adalah Pewarta Deli, yang kala itu dipimpin jurnalis ternama Adinegoro (Djamaludin Gelar Datuk Pamuncak). Dari tulisan-tulisan Adinegoro, Adam Malik mulai tertarik pada dunia jurnalistik dan pergerakan.
Selain aktif di bidang usaha dan membaca, Adam Malik juga terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi. Ia bergabung dengan kepanduan Hizbul Wathan yang berafiliasi dengan Muhammadiyah. Tidak puas hanya sampai di situ, ia kemudian mendirikan cabang organisasi Indonesia Muda di Pematang Siantar, yang terhubung langsung dengan pusatnya di Batavia (Jakarta). Semangat berorganisasi inilah yang kelak menjadi pijakan penting dalam kiprah politiknya di kemudian hari.
Pendidikan dan Pembentukan Karakter
Adam Malik menempuh pendidikan dasarnya di HIS (Hollands Inlandsche School), sekolah Belanda untuk pribumi yang dianggap bergengsi pada masanya. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Adam Malik berkeinginan melanjutkan pendidikannya ke Minangkabau, daerah yang terkenal sebagai pusat pendidikan Islam di Sumatra.
Niatnya untuk belajar ke Bukittinggi sempat ditentang oleh kedua orang tuanya, bukan karena melarang menuntut ilmu, melainkan karena berat berpisah dengan anak mereka. Namun, Adam Malik tetap bersikeras dan akhirnya mendapat izin. Ia pun berangkat ke Bukittinggi dan masuk ke Madrasah Thawalib Parabek pada tahun 1930. Sekolah ini dipimpin oleh Syeikh Ibrahim Musa, dan dikenal sebagai pusat pembaharuan pemikiran Islam. Metode pengajaran yang modern, serta suasana intelektual yang kritis.
Namun, ia hanya sempat belajar selama satu tahun di Thawalib Parabek. Kakek dan neneknya meminta agar Adam Malik kembali ke kampung halaman. Meski demikian, semangat belajarnya tidak surut. Atas kesepakatan keluarga, ia kemudian melanjutkan pendidikan agama di Tanjungpura pada sebuah sekolah bernama Al-Masrullah.
Meskipun jalur pendidikan formalnya tidak panjang, Adam Malik memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Ia rajin membaca dan bergaul dengan banyak kalangan, sehingga memperluas wawasannya. Berkat ketekunannya, ia mampu menguasai beberapa bahasa asing, seperti Belanda, Arab, Jepang, dan Inggris. Kemampuan berbahasa inilah yang kelak sangat membantunya dalam karier jurnalistik, diplomasi, dan politik.
Awal Pergerakan dan Jurnalistik
Keterlibatan Adam Malik dalam dunia pergerakan dimulai sejak usia remaja. Pada tahun 1930-an, ketika masih tinggal di Pematang Siantar, ia sudah aktif dalam kegiatan politik lokal. Semangatnya untuk memperjuangkan kemerdekaan membuatnya bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo). Bahkan, pada usia 17 tahun, ia dipercaya menjadi Ketua Cabang Partindo Pematang Siantar. Dari posisi ini, Adam Malik muda berani mengkampanyekan gagasan agar pemerintah kolonial Belanda segera memberikan kemerdekaan bagi Indonesia. Aktivitas politik tersebut membuatnya sempat ditahan oleh pemerintah kolonial karena dianggap melanggar larangan mengadakan rapat politik.
Setelah bebas dari tahanan, Adam Malik memutuskan hijrah ke Jakarta untuk memperluas kiprah perjuangannya. Di ibu kota, ia menekuni dunia jurnalistik yang kala itu menjadi salah satu alat perjuangan melawan penjajahan. Bersama Soemanang, Sipahutar, Armin Pane, Abdul Hakim, dan Pandu Kartawiguna, Adam Malik mendirikan Kantor Berita Antara pada tahun 1937. Ia dipercaya menjadi editor sekaligus wakil direktur.
Selain aktif di Antara, Adam Malik juga menulis artikel di berbagai media, seperti harian Pelita Andalas dan majalah Partindo. Tulisannya dikenal lugas, tajam, dan berani mengkritik ketidakadilan kolonialisme. Dari sinilah Adam Malik semakin dikenal sebagai wartawan muda yang idealis sekaligus politisi yang berpihak pada rakyat.
Masa pendudukan Jepang pada awal 1940-an tidak menyurutkan langkahnya. Ia justru semakin aktif membangun jaringan dengan para pemuda. Adam Malik bergabung dengan Gerakan Pemuda di Jakarta dan salah satu peristiwa bersejarah yang tidak bisa dilepaskan dari namanya adalah peristiwa Rengasdengklok. Pada 16 Agustus 1945, Adam Malik bersama para pemuda lainnya menculik Soekarno dan Mohammad Hatta, mendesak keduanya agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa menunggu persetujuan Jepang. Desakan inilah yang akhirnya mempercepat lahirnya Proklamasi 17 Agustus 1945.
Kemerdekaan Indonesia
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Adam Malik bekerja di kantor berita Domei (kini Kantor Berita Antara), memimpin bagian Indonesia. Dari sinilah ia memastikan bahwa informasi mengenai proklamasi kemerdekaan tersebar luas ke seluruh penjuru tanah air bahkan sampai ke dunia internasional.
Selain itu, Adam Malik juga aktif mengorganisir pemuda dalam menjaga semangat revolusi. Ia termasuk dalam generasi muda yang tidak hanya mendorong percepatan proklamasi, tetapi juga ikut mengawal jalannya pemerintahan yang baru berdiri. Semangat militansinya menjadikan Adam Malik sebagai salah satu tokoh penting dalam barisan pemuda yang menjadi penggerak revolusi kemerdekaan.
Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia pada 1949, Adam Malik ikut mendirikan Partai Rakyat serta kemudian menjadi salah satu pendiri Partai Murba, partai yang dikenal dengan sikap nasionalis-radikal. Pada Pemilu 1955, Adam Malik berhasil terpilih sebagai anggota DPR. Dari sini, karier politiknya kian menanjak.
Di bidang pemerintahan, ia pernah dipercaya sebagai Menteri Perdagangan (1963–1964) dan kemudian Menteri Pelaksanaan Ekonomi Terpandu di era Presiden Soekarno. Pada saat yang sama, Adam Malik juga aktif dalam dunia diplomasi. Tahun 1959, ia ditugaskan sebagai Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet dan Polandia, serta memimpin delegasi Indonesia dalam perundingan dengan Belanda mengenai Irian Barat di Washington D.C.
Karier Politik dan Diplomasi Pasca-Kemerdekaan
Memasuki era Orde Baru, peran Adam Malik semakin menonjol, khususnya di bidang diplomasi. Ia dikenal sebagai salah satu diplomat ulung Indonesia yang mampu memperjuangkan kepentingan bangsa di forum internasional.
Pada tahun 1966, Adam Malik ditunjuk menjadi Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Ampera. Pada masa inilah ia mulai menorehkan prestasi besar. Salah satunya adalah keberhasilannya bersama para menteri luar negeri dari Thailand, Malaysia, Filipina, dan Singapura mendirikan organisasi ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) pada 8 Agustus 1967 di Bangkok. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam kerja sama regional Asia Tenggara yang hingga kini terus berlanjut.
Sebagai diplomat, Adam Malik juga piawai dalam menjaga hubungan Indonesia dengan negara-negara besar. Ia memainkan peran penting dalam memperbaiki citra Indonesia di mata dunia setelah masa konfrontasi dengan Malaysia. Selain itu, ia turut mengarahkan politik luar negeri Indonesia agar lebih terbuka dan netral, sesuai dengan prinsip bebas-aktif yang digagas sejak awal kemerdekaan.
Kariernya terus menanjak hingga dipercaya menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, yakni dari tahun 1978 hingga 1983. Dalam posisinya sebagai wapres, Adam Malik dikenal tegas dan lugas dalam menyampaikan pendapat, bahkan tidak jarang berbeda sikap dengan Presiden Soeharto.
Selain jabatan politik dan pemerintahan, Adam Malik juga pernah meraih kehormatan internasional dengan terpilih sebagai Ketua Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1971. Ia menjadi orang Asia kedua yang menduduki jabatan prestisius tersebut.
Akhir Hayat
Adam Malik menutup perjalanan hidupnya pada 5 September 1984 di Bandung, Jawa Barat. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya yang besar bagi negara.
Atas jasa-jasanya, Adam Malik memperoleh berbagai penghargaan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Beberapa di antaranya adalah Bintang Republik Indonesia Adipradana dan sejumlah penghargaan kehormatan dari negara sahabat. Pada 6 November 1998, pemerintah Republik Indonesia menetapkan Adam Malik sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Keppres No. 107/TK/TH. 1998.
Sumber:
- Fitriyani, Mela. Peranan Adam Malik dalam Politik Luar Negeri Indonesia Tahun 1966–1977. Skripsi, Universitas Pendidikan Indonesia, 2017.
- Ayunityas, Shintya. Adam Malik: Diplomat dan Pejuang yang Berperan dalam Perundingan Internasional 1963–1970. Preprint, Universitas Negeri Semarang, Dec. 2023. DOI: 10.13140/RG.2.2.31814.86087. Diakses 20 Agustus 2025.
- “Profil Adam Malik: Sejarah Tokoh Pendiri ASEAN dari Indonesia” tirto.id (Diakses pada 29 Agustus 2025)
- “Adam Malik, H” ikpni.or.id (Diakses pada 29 Agustus 2025)