Want to Partnership with me? Book A Call

Popular Posts

  • All Post
  • Biografi
  • Lembaga
  • Penghargaan
  • Peristiwa
    •   Back
    • Pemimpin
    • Agama
    • Seniman
    • Pahlawan
    • Politik
    • Militer
    • Islam
    • Kristen
    • Katolik
    • Budha
    • Pencipta Lagu
    • Musisi
    • Penyanyi
    • Komedian
    • Aktor
    •   Back
    • Pencipta Lagu
    • Musisi
    • Penyanyi
    • Komedian
    • Aktor
    •   Back
    • Bintang
    • Satyalancana
    • Lencana Internasional
    •   Back
    • Islam
    • Kristen
    • Katolik
    • Budha
    •   Back
    • Kabinet
    •   Back
    • Pahlawan
    • Politik
    • Militer
    •   Back
    • Perang

Categories

Edit Template

Mohamad Roem: Seorang Diplomat dan Tokoh Pejuang

Setelah Indonesia merdeka, tantangan baru muncul dengan kedatangan kembali Belanda, yang datang bersama dengan NICA dan didukung oleh Sekutu, dengan tujuan melucuti senjata tentara Jepang yang kalah dalam Perang Dunia II. 

Kedatangan Belanda ini merupakan upaya untuk kembali menguasai Indonesia dan memperoleh keuntungan ekonomi. Sekutu membantu Belanda dengan membonceng NICA, yang tiba pertama kali pada tanggal 29 September 1945. Namun, Indonesia menolak kedatangan Belanda, yang memicu konflik diplomatik karena Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia. 

Dalam rangka menyelesaikan konflik tersebut, dilakukan berbagai perundingan seperti Perundingan Linggarjati, Renville, Roem-Royen, hingga Konferensi Meja Bundar (KMB). Mohamad Roem, tokoh diplomasi Indonesia, memainkan peran penting dalam semua perundingan ini, bahkan dipercayakan sebagai ketua delegasi Indonesia dalam perundingan Roem-Royen pada 7 Mei 1949. 

Hasil perundingan ini, termasuk mundurnya pasukan Belanda dan terbukanya peluang untuk kedaulatan Indonesia, dianggap sebagai langkah penting yang diambil oleh Mohamad Roem, meskipun tidak tanpa kritik. 

Selain itu, Mohamad Roem juga aktif dalam berbagai jabatan politik, seperti menjadi Menteri dalam Kabinet Sjahrir III, Menteri Luar Negeri Kabinet Natsir, Menteri Dalam Negeri Kabinet Wilopo, dan bahkan menjadi Wakil Perdana Menteri Indonesia.

Masa Kecil Mohamad Roem

Mohamad Roem lahir pada tanggal 16 Mei 1908 di Desa Klewongan, Kawedanan Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara dari pasangan Dulkarnaen Djojosasmito dan Siti Tarbijah. 

Masa kecilnya dihabiskan di dua tempat berbeda, yaitu Parakan dan Pekalongan, Jawa Tengah. Ia menikah dengan Markisah Dahlia di Malang, Jawa Timur, pada 11 Juni 1932, dan memiliki dua anak.

Kehidupan awal Mohamad Roem di Parakan memberikan pengaruh besar pada dirinya. Di sana, ia tinggal bersama nenek, ayah, ibu, dan saudara-saudaranya. Nenek memegang peranan penting dalam keluarga, meskipun ayahnya juga memiliki pengaruh yang kuat. 

Perbedaan pola pengasuhan antara nenek yang cenderung feodalistik dan ayah yang lebih demokratis menciptakan dinamika dalam perkembangan pribadinya.

Meskipun dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda, Mohamad Roem mampu bersahabat dengan beragam orang dari latar belakang agama dan sosial yang berbeda. Pindahannya ke Pekalongan, terutama setelah kepergian ayahnya, memperkuat pemahamannya tentang Islam dan semangat sosialisme yang dicetuskan oleh H.O.S. Tjokroaminoto.

Pendidikan agama yang diperolehnya di Parakan dan Pekalongan menjadi landasan penting dalam perjalanan kehidupannya, yang terus berkembang saat ia terlibat dalam berbagai kegiatan kepemudaan, keagamaan, politik, dan sosial. 

Mohamad Roem adalah tokoh nasional yang hidup dan aktif selama masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, dan zaman kemerdekaan.

Pendidikan Mohamad Roem

Mohamad Roem memulai pendidikan formalnya di Sekolah Desa pada tahun 1915, di mana ia belajar selama dua tahun sebelum melanjutkan ke HIS (Hollands Inlandshe School) di Temanggung. Perjalanan antara Parakan dan Temanggung ditempuhnya dengan naik kereta api. 

Ia menyelesaikan sekolah dasarnya di Pekalongan setelah ayahnya meninggal pada tahun 1920. Mohamad Roem bersekolah di HIS Temanggung sampai kelas III. Setelah itu, dia beralih ke HIS Pekalongan hingga lulus pada tahun 1924.

Setelah menyelesaikan pendidikan di HIS Pekalongan, Mohamad Roem mendapat beasiswa untuk melanjutkan ke STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) di Jakarta, sebuah sekolah kedokteran untuk pribumi. 

Meskipun STOVIA dibubarkan pada tahun 1927 dan diganti dengan NIAS (Nederlandse Indische Artsen School), Mohamad Roem berhasil menyelesaikan persiapan selama tiga tahun di STOVIA. Dia kemudian melanjutkan ke AMS pada tahun 1927 dan lulus pada tahun 1930.

Selama dua tahun pertama di STOVIA, Mohamad Roem tinggal di asrama Kwini, dan selama empat tahun berikutnya, dia tinggal di asrama Jan Pieterzoon Coen. Dalam enam tahun ini, dia terlibat dalam aktivitas kepanduan dan politik, terutama yang terkait dengan masalah nasional.

Setelah lulus dari AMS pada tahun 1930, Mohamad Roem melanjutkan ke GHS (Geneeskundige Hoogeschool) di Salemba selama dua tahun, tetapi tidak berhasil lulus. Pada tahun 1932, dia masuk RHS (Rechts Hoogeschool) di Jakarta dan lulus pada tahun 1939, meraih gelar “Meester in de Rechten” (Mr) atau Sarjana Hukum. Setelah itu, ia memulai karir sebagai advokat yang membela rakyat kecil.

Mohamad Roem adalah contoh dari generasi pertama yang mendapat pendidikan tinggi dan menyadari tanggung jawab mereka untuk mengangkat rakyat dari kemiskinan dan ketidaktahuan. Sebagai seorang terpelajar dan tokoh nasional, ia terlibat dalam berbagai perundingan penting selama tiga zaman berbeda: masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, dan kemerdekaan Indonesia.

Penjajahan Belanda

Mohamad Roem adalah salah satu anak Jawa yang beruntung pada masa itu, di mana pemerintah kolonial Belanda mulai memperhatikan kaum bumiputera. Hal ini berawal dari perubahan kebijakan yang diumumkan oleh Ratu Wilhelmina pada tahun 1901, yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Hindia. 

Perubahan ini memberikan kesempatan bagi anak-anak Indonesia golongan atas untuk mendapatkan pendidikan di sekolah-sekolah berbahasa Belanda. Mohamad Roem merupakan salah satu dari mereka yang mendapat kesempatan tersebut.

Kebijakan politik etis yang diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20 membawa harapan baru bagi bangsa Indonesia. Ini termasuk upaya dalam bidang pendidikan, yang menghasilkan elit baru yang semakin menyadari perbedaan kedudukan mereka dalam masyarakat kolonial. Dari situlah muncul gerakan modern, dengan berdirinya berbagai organisasi nasionalis seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Muhammadiyah.

Mohamad Roem mulai memahami arti berorganisasi ketika ia belajar di STOVIA di Jakarta pada tahun 1924. Di sana, ia terlibat dalam organisasi pemuda seperti Jong Java dan Jong Islamieten Bond, yang membantunya memahami dunia politik Indonesia.

Keterlibatan ini memengaruhi karier politiknya di kemudian hari, terutama setelah berkenalan dengan Haji Agus Salim, yang menjadi penasihatnya di Jong Islamieten Bond.

Selama menjadi anggota Jong Java dan Jong Islamieten Bond, Mohamad Roem aktif dalam berbagai kegiatan organisasi, termasuk olahraga dan seni tradisional Jawa. Keanggotaannya dalam Jong Islamieten Bond memberinya kesempatan untuk mendalami agama Islam, yang semakin diperdalam ketika ia tinggal di Pekalongan. 

Hubungannya dengan Haji Agus Salim memengaruhi langkah-langkah politiknya, termasuk kiprahnya dalam Partai Sarekat Islam Indonesia dan gerakan penyadar.

Mohamad Roem secara resmi menjadi anggota PSII pada tahun 1932, dan aktif membela nasib anggota PSII di pengadilan Belanda. Namun, ketika terjadi perpecahan di PSII, Haji Agus Salim mencoba menyatukan kembali anggotanya melalui organisasi baru yang disebut Barisan Penyadar PSII.

 Ini menunjukkan kegigihan dan semangat politik pejuang-pejuang Indonesia pada masa itu, yang meskipun di bawah penjajahan Belanda, tetap berjuang untuk mencapai kemerdekaan penuh bagi bangsa dan tanah air mereka.

Perjuangan Masa Jepang

Pada awal pendudukan Jepang di Indonesia, dimulai dengan penyerahan tanpa syarat oleh Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborg Stachouwer dan Letnan Jenderal Hein Ter poorten kepada Jenderal Hitoshi Imamura pada 8 Maret 1942 di Kalijati, Jawa Barat. Sebelum invasi, Jepang melakukan penyelidikan tentang kondisi masyarakat Indonesia dan tanggapannya terhadap pemerintahan Belanda. 

Melalui propaganda, Jepang berjanji untuk membebaskan Indonesia dari penjajahan Barat dan memajukan bangsa Indonesia setelah keberhasilan mengusir Belanda. Namun, harapan tersebut pupus ketika Jepang melakukan penindasan ekonomi dan politik.

Secara ekonomis, Jepang merampas kekayaan Indonesia untuk mendukung perang mereka, sementara secara politis, mereka melarang segala bentuk kegiatan nasionalis dan memperkenalkan undang-undang yang membatasi kebebasan berbicara dan berekspresi. Hal ini mengakibatkan kemunduran gerakan nasional Indonesia yang telah tumbuh di bawah penjajahan Belanda.

Mohamad Roem, seperti banyak lainnya, merasakan dampak dari penindasan Jepang terhadap gerakan nasional. Namun, ia tetap terlibat dalam kegiatan politik melalui Barisan Pelopor dan kemudian Barisan Hizbullah. Setelah Jepang kalah dalam pertempuran di Laut Karang pada Mei 1942, kekuasaannya di Indonesia mulai tergoyahkan.

Pada akhir September 1944, Mohamad Roem terlibat dalam pelatihan militer bersama pemuda lainnya. Setelah Jepang merestui pembentukan Barisan Pelopor dan Barisan Hizbullah, Mohamad Roem kembali aktif dalam pergerakan nasional Indonesia.

Ketika proklamasi kemerdekaan Indonesia diumumkan pada Agustus 1945, suasana politik Indonesia berubah drastis. Setelah tiga setengah tahun di bawah kekuasaan Jepang, masyarakat Indonesia menunggu dengan penuh antisipasi untuk memainkan peran mereka dalam masa depan negara yang baru merdeka. 

Mohamad Roem, yang pada masa pendudukan Jepang kurang menonjol, kembali terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia setelah proklamasi tersebut.

Masa Kemerdekaan

Pada awal kemerdekaan Indonesia, suasana penuh ketegangan karena tentara Jepang masih ada di sini setelah Perang Dunia. Meskipun Jepang telah kalah, mereka diamanahkan untuk menjaga keamanan di Indonesia atas nama negara-negara Sekutu yang menang. 

Namun, semangat kemerdekaan telah menyala di kalangan bangsa Indonesia, yang tidak lagi mau diperintah oleh bangsa asing. Ketegangan mencapai puncaknya saat digelar rapat besar di Jakarta untuk menegaskan tekad bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaannya.

Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 menandai awal dari perjalanan baru bagi Indonesia. Sebagai negara yang baru merdeka, Indonesia sibuk mengatur perangkat pemerintahannya. Beberapa kegiatan termasuk pemilihan presiden dan wakil presiden, penyusunan Undang-Undang Dasar, pembentukan lembaga perwakilan rakyat, dan pembentukan kabinet pertama Republik Indonesia.

Hasil dari upaya tersebut termasuk penunjukan Ir. Soekarno sebagai presiden pertama dan Drs. Mohammad Hatta sebagai wakil presiden. UUD 1945 disusun, KNIP didirikan, dan kabinet pertama dibentuk. Mohamad Roem terlibat dalam KNIP, di mana ia menjadi Ketua KNI Jakarta Raya. Selama periode ini, dia bekerja sama dengan Walikota Jakarta Raya, Suwirjo.

Setelah itu, Mohamad Roem terlibat aktif dalam Masyumi, salah satu partai politik terkemuka saat itu. Dia menjabat dalam berbagai posisi dalam partai, serta menduduki beberapa jabatan dalam kabinet pemerintahan, termasuk sebagai Menteri Dalam Negeri. Meskipun terlibat dalam pemerintahan, ia tetap fokus pada perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Penangkapan

Pada era Demokrasi Terpimpin (1959-1966), timbul perselisihan antara Partai Masyumi dengan Presiden Soekarno. Beberapa tokoh Masyumi diduga terlibat dalam gerakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada tahun 1958, yang menggelar aksi pemberontakan terhadap pemerintahan Republik Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno

Meningkatnya aktivitas PRRI berdampak negatif pada Masyumi, terutama di wilayah yang terkena dampak. Di beberapa tempat, pemerintah Soekarno melarang beberapa organisasi dan partai politik, termasuk Masyumi.

Setelah Partai Masyumi dibubarkan pada tanggal 17 Agustus 1960 atas tekanan dari Soekarno, Roem kehilangan jabatannya di pemerintahan. Ia kemudian beralih fokus pada penulisan buku dan penelitian sejarah politik Indonesia serta bidang ilmiah lainnya. 

Namun, pada tanggal 16 Januari 1962, ia dan beberapa tokoh Masyumi serta PSI ditahan tanpa proses pengadilan selama empat tahun (1962-1966) atas tuduhan terlibat dalam peristiwa Cendrawasih, upaya pembunuhan terhadap Presiden Soekarno di Makassar.

Roem dan rekan-rekannya dibebaskan dari penahanan pada tahun 1966 setelah pemerintahan Soekarno goyah akibat pemberontakan PKI tahun 1965. Pada tahun 1969, Roem hampir kembali ke arena politik setelah terpilih sebagai ketua Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), yang merupakan kelanjutan Masyumi. 

Namun, Soeharto, presiden saat itu, tidak menyetujui hal tersebut karena khawatir Parmusi di bawah pimpinan Roem dapat menjadi partai besar seperti Masyumi dan mengancam kedudukan Golkar. Akibat tekanan pemerintah, Roem terpaksa mundur dari posisi Ketua Parmusi, dan digantikan oleh Djarnawi Hadikusumo.

Wafat

Setelah itu, Roem memutuskan untuk benar-benar mengundurkan diri dari kegiatan politik aktif. Dia kemudian, bersama M. Natsir dan beberapa mantan anggota Masyumi lainnya, mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) pada tahun 1970-an. 

Roem akhirnya meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 24 September 1983, pada usia 75 tahun, akibat penyakit gangguan paru-paru. Dia meninggalkan seorang istri dan dua anak.

Share Article:

arsipmanusia.com

Writer & Blogger

Considered an invitation do introduced sufficient understood instrument it. Of decisively friendship in as collecting at. No affixed be husband ye females brother garrets proceed. Least child who seven happy yet balls young. Discovery sweetness principle discourse shameless bed one excellent. Sentiments of surrounded friendship dispatched connection is he. Me or produce besides hastily up as pleased. 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baru Terbit

  • All Post
  • Biografi
  • Lembaga
  • Penghargaan
  • Peristiwa
    •   Back
    • Pemimpin
    • Agama
    • Seniman
    • Pahlawan
    • Politik
    • Militer
    • Islam
    • Kristen
    • Katolik
    • Budha
    • Pencipta Lagu
    • Musisi
    • Penyanyi
    • Komedian
    • Aktor
    •   Back
    • Pencipta Lagu
    • Musisi
    • Penyanyi
    • Komedian
    • Aktor
    •   Back
    • Bintang
    • Satyalancana
    • Lencana Internasional
    •   Back
    • Islam
    • Kristen
    • Katolik
    • Budha
    •   Back
    • Kabinet
    •   Back
    • Pahlawan
    • Politik
    • Militer
    •   Back
    • Perang

Jenderal AH Nasution

Jenderal Abdul Haris Nasution, lahir pada 3 Desember 1918, adalah sosok kunci dalam sejarah Indonesia yang memberikan kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan negara.

Join the family!

Sign up for a Newsletter.

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.
Edit Template

About

Arsip Manusia

Arsip Manusia, blog biografi tokoh terkenal, dibuat Maret 2023. Kami membagikan cerita inspiratif dan menerima kontribusi tulisan dari penulis luar setelah seleksi ketat. Konten bebas politik, kebencian, dan rasisme; saat ini tanpa bayaran.

Recent Post

Team

Scroll to Top