Edit Template

Achmad Mochtar: Ilmuwan Indonesia, Tragedi Vaksin Romusha

Prof. Dr. Achmad Mochtar dikenal sebagai dokter, peneliti bakteriologi, sekaligus ilmuwan, ia melakukan penelitian tentang penyakit tropis pada masa Hindia Belanda. Ia merupakan Ilmuan Indonesia pertama yang dipercaya memimpin Lembaga Eijkman pada masa pendudukan Jepang. 

Setelah menempuh pendidikan kedokteran di STOVIA dan meraih gelar doktor dari Universiteit van Amsterdam, ia melakukan penelitian mengenai bakteri Leptospira yang mendapat pengakuan di tingkat internasional. Penelitiannya memberikan kontribusi pada perkembangan ilmu bakteriologi.

Pada tahun 1944 ia ditangkap oleh Kenpeitai setelah dituduh terlibat dalam kasus sabotase vaksin yang menewaskan ratusan romusha. Demi menyelamatkan rekan-rekannya di Lembaga Eijkman dari penyiksaan, Achmad Mochtar memilih menanggung seluruh tuduhan tersebut. Ia kemudian dieksekusi oleh militer Jepang pada 3 Juli 1945. Pengorbanannya menjadikan Achmad Mochtar dikenang sebagai ilmuwan sekaligus martir kemanusiaan dalam sejarah Indonesia.

Latar Belakang Keluarga dan Masa Kecil

Achmad Mochtar lahir pada 10 November 1890 di Bonjol, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat, Hindia Belanda. Ia tumbuh dalam lingkungan masyarakat Minangkabau yang menganut sistem kekerabatan matrilineal dan pada awal abad ke-20 mulai mengalami perubahan melalui berkembangnya pendidikan modern sebagai dampak dari kebijakan Politik Etis pemerintah kolonial.

Achmad Mochtar berasal dari keluarga yang memiliki kedudukan terhormat di lingkungan masyarakat. Ayahnya, Omar Sutan Nagari, merupakan seorang guru pribumi. Sepanjang kariernya, Omar Sutan Nagari beberapa kali berpindah tempat mengikuti penugasan sebagai tenaga pendidik di berbagai daerah di Sumatra, di antaranya Bonjol, Mandailing, hingga Muara Enim. Bahkan pada usia lanjut, ia masih aktif memimpin Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Muara Enim dan pernah mengikuti pendidikan guru di Bandung untuk meningkatkan kualitas pengajarannya.

Ibunya, Roekajah, berasal dari keluarga terpandang. Ia merupakan cucu seorang Larashoofd atau kepala laras di wilayah Ganggo Hilia, Bonjol. Latar belakang keluarga dari kedua orang tuanya memberikan kesempatan yang lebih baik bagi Achmad Mochtar untuk memperoleh pendidikan modern pada masa kolonial.

Kehidupan Pribadi

Pada tahun 1916, setelah menyelesaikan pendidikan kedokterannya di STOVIA, Achmad Mochtar menikah dengan Siti Hasnah. Dari pernikahan tersebut lahir dua orang putra, Baharsjah Mochtar dan Imramsjah Mochtar. Baharsjah diketahui meninggal dunia di Leiden, Belanda, pada 21 Februari 1944 ketika sedang menempuh pendidikan, sedangkan Imramsjah kemudian diketahui berganti kewarganegaraan.

Melalui ikatan keluarga, Achmad Mochtar memiliki hubungan kekerabatan dengan sejumlah tokoh penting Indonesia. Istrinya merupakan kakak kandung dr. Ali Hanafiah, seorang dokter dan ahli farmasi yang kelak menjadi Dekan pertama Perguruan Tinggi Ahli Obat yang kemudian berkembang menjadi Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada. 

Di lingkungan keluarga besarnya juga terdapat Abu Hanifah, tokoh pergerakan sekaligus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada masa Republik Indonesia Serikat, serta Usmar Ismail yang dikenal sebagai pelopor perfilman nasional Indonesia. 

Pendidikan

Berkat profesi ayahnya sebagai guru dalam sistem pendidikan kolonial, ia memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS), yaitu sekolah dasar berbahasa Belanda yang pada masa itu umumnya diperuntukkan bagi anak-anak Eropa dan kalangan elite pribumi. Meskipun tidak diketahui secara pasti di kota mana ia menyelesaikan pendidikan tersebut karena keluarganya sering berpindah mengikuti penugasan sang ayah, catatan kolonial menunjukkan bahwa pada 19 September 1908 Achmad Mochtar telah menyelesaikan ujian tingkat persiapan dengan hasil yang memuaskan.

Pada tahun 1907 Achmad Mochtar diterima sebagai mahasiswa School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) di Batavia. STOVIA merupakan sekolah kedokteran yang didirikan pemerintah kolonial untuk mendidik dokter pribumi dan dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan paling bergengsi pada masanya.

Selain belajar kedokteran Barat yang ketat, ia juga belajar bersama sejumlah calon dokter yang kemudian menjadi tokoh dalam dunia kesehatan Indonesia, seperti Sardjito, Mohammad Sjaaf, Raden Soeselo, J.A. Latumeten, dan A.B. Andu

Meskipun kurikulum STOVIA dikenal berat dengan tingkat kelulusan yang rendah, Achmad Mochtar berhasil menyelesaikan seluruh pendidikannya tanpa mengulang. Pada 21 Juni 1916 ia resmi lulus dan memperoleh gelar Inlandsche Arts (Dokter Bumiputera).

Setelah beberapa tahun bertugas sebagai dokter di Sumatra, kemampuan ilmiah Achmad Mochtar menarik perhatian W.A.P. Schüffner, seorang peneliti di bidang penyakit tropis. Atas rekomendasi Schüffner, pemerintah kolonial Belanda memberikan kesempatan kepadanya untuk melanjutkan pendidikan doktoral di Universiteit van Amsterdam.

Di Belanda, Achmad Mochtar memusatkan penelitiannya pada bakteri Leptospira, penyebab penyakit leptospirosis. Di bawah bimbingan Schüffner, ia melakukan serangkaian penelitian laboratorium mengenai karakteristik berbagai galur bakteri tersebut. Hasil penelitiannya kemudian dituangkan dalam disertasi berjudul Onderzoekingen Omtrent Eenige Leptospiren-Stammen yang berhasil dipertahankan pada tahun 1927.

Achmad Mochtar berhasil menunjukkan bahwa bakteri Leptospira icteroides, yang sebelumnya dianggap sebagai penyebab demam kuning, sebenarnya identik dengan Leptospira icterohaemorrhagiae, penyebab penyakit Weil atau leptospirosis. Temuan ini turut mengoreksi pandangan ilmiah yang berkembang saat itu dan memperkuat pemahaman mengenai penyebab sebenarnya dari penyakit demam kuning. 

Karier Awal

Setelah lulus dari STOVIA pada tahun 1916, Achmad Mochtar memulai kariernya sebagai dokter pemerintah di bawah Burgerlijk Geneeskundige Dienst. Penugasan pertamanya di Panyabungan, Mandailing Natal, Sumatra Utara, sebuah daerah yang pada saat itu dikenal sebagai wilayah endemis malaria.

Di daerah tersebut ia bertemu dengan W.A.P. Schüffner, seorang ahli penyakit tropis yang kemudian menjadi mentor penting dalam perjalanan karier ilmiahnya. Melalui bimbingan Schüffner, Achmad Mochtar mempelajari metode penelitian epidemiologi dan observasi klinis. Selain memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, ia juga aktif melakukan penelitian mengenai berbagai penyakit tropis yang banyak ditemukan di wilayah Sumatra. 

Setelah menyelesaikan pendidikan doktoralnya, Achmad Mochtar kembali bertugas di berbagai daerah, antara lain Bengkulu, Sumatra Barat, dan Semarang. Selama masa tersebut ia terus melakukan penelitian mengenai leptospirosis dan berbagai penyakit tropis lainnya.

Hasil penelitiannya secara rutin diterbitkan dalam Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië (GTNI), salah satu jurnal kedokteran terkemuka pada masa Hindia Belanda. Melalui berbagai publikasi tersebut, Achmad Mochtar memperkenalkan metode penelitian yang sistematis dan memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu bakteriologi serta epidemiologi di Indonesia.

Lembaga Eijkman

Pada Mei 1937 Achmad Mochtar dipindahkan ke Batavia untuk bergabung dengan Geneeskundig Laboratorium, yang kemudian dikenal sebagai Lembaga Eijkman. Lembaga ini merupakan pusat penelitian kedokteran dan biologi paling maju di Hindia Belanda.

Di Lembaga Eijkman ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Departemen Bakteriologi. Jabatan tersebut menempatkannya sebagai salah satu peneliti utama di lembaga itu sekaligus orang kepercayaan Direktur Willem Karel Mertens. Dengan dukungan fasilitas laboratorium yang lebih lengkap, Achmad Mochtar semakin aktif melakukan penelitian mengenai penyakit infeksi serta membangun kerja sama ilmiah dengan para peneliti lainnya.

Perubahan besar terjadi setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada tahun 1942. Seluruh pejabat dan ilmuwan Belanda diinternir oleh pemerintah militer Jepang, termasuk Direktur Lembaga Eijkman, Willem Karel Mertens. Dalam situasi tersebut, Achmad Mochtar diangkat sebagai Direktur Lembaga Eijkman dan menjadi orang Indonesia pertama yang memimpin lembaga penelitian tersebut.

Sebagai direktur, ia menghadapi berbagai tantangan akibat situasi perang, terutama kelangkaan obat-obatan dan memburuknya kondisi kesehatan masyarakat. Di tengah keterbatasan tersebut, Achmad Mochtar berupaya mempertahankan kegiatan penelitian sekaligus melindungi para peneliti yang bekerja di bawah kepemimpinannya.

Ia juga mendorong pemanfaatan tanaman obat sebagai alternatif pengobatan ketika pasokan obat modern terhambat akibat perang. Melalui pembentukan komite penelitian farmakognosi serta penyusunan pedoman penggunaan tanaman obat, Achmad Mochtar berupaya mengembangkan pemanfaatan bahan-bahan alami yang tersedia di Indonesia untuk membantu memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat.

Tragedi Vaksin Klender dan Eksekusi

Pada pertengahan tahun 1944, ketika Perang Pasifik memasuki fase yang semakin berat bagi Jepang, pemerintah militer berupaya mempercepat produksi vaksin untuk melindungi pasukan yang bertugas di wilayah tropis. Salah satu ancaman yang menjadi perhatian adalah infeksi tetanus yang sering menyerang prajurit akibat luka perang. Dalam kondisi terdesak, otoritas medis militer Jepang melakukan uji coba vaksin tanpa mengikuti prosedur penelitian yang semestinya.

Eksperimen tersebut dilakukan terhadap para romusha di Kamp Klender, Jakarta Timur. Ratusan pekerja paksa disuntik dengan cairan yang diklaim sebagai vaksin kombinasi penyakit tifus, kolera, dan disentri. Tidak lama setelah penyuntikan, banyak romusha mengalami demam tinggi, kejang otot, dan gejala tetanus yang berat. Dalam waktu singkat, sedikitnya 900 romusha meninggal dunia akibat kegagalan eksperimen tersebut.

Besarnya jumlah korban mendorong pemerintah militer Jepang menutupi peristiwa tersebut. Untuk menghindari tanggung jawab atas kegagalan eksperimen, disusun sebuah skenario yang menyatakan bahwa vaksin telah disabotase oleh pihak Lembaga Eijkman. Tuduhan tersebut kemudian diarahkan kepada Achmad Mochtar beserta para peneliti yang bekerja di bawah kepemimpinannya.

Pada Oktober 1944, Polisi Militer Jepang (Kenpeitai) mendatangi Lembaga Eijkman dan menangkap Achmad Mochtar bersama sejumlah dokter serta peneliti lainnya. Di antara mereka terdapat dr. Ali Hanafiah, dr. Marah Achmad Arif, dr. Soeleiman Siregar, dan beberapa anggota staf lembaga.

Selama proses penyelidikan, mereka dituduh telah mencampurkan bakteri tetanus ke dalam vaksin yang digunakan di Kamp Klender. Menurut tuduhan tersebut, tindakan itu dilakukan sebagai bentuk sabotase terhadap militer Jepang. Meskipun tidak pernah ditemukan bukti yang mendukung tuduhan tersebut, seluruh staf Lembaga Eijkman tetap ditahan dan menjalani pemeriksaan secara paksa.

Selama berada dalam tahanan Kenpeitai, Achmad Mochtar dan rekan-rekannya mengalami penyiksaan fisik maupun mental yang berat. Mereka dipukuli, disetrum, direndam di dalam air, serta mengalami berbagai bentuk penyiksaan lainnya untuk memaksa mereka mengakui tuduhan sabotase yang diajukan oleh pihak militer Jepang.

Penyiksaan tersebut menyebabkan dua orang rekan Achmad Mochtar, yaitu dr. Marah Achmad Arif dan dr. Soeleiman Siregar, meninggal dunia di dalam tahanan. Sementara itu, para tahanan lainnya berada dalam kondisi fisik yang sangat lemah akibat penyiksaan yang terus berlangsung.

Melihat penderitaan rekan-rekannya, Achmad Mochtar mengambil keputusan yang sangat berat. Ia bersedia menandatangani pengakuan bahwa dirinya seorang diri bertanggung jawab atas dugaan sabotase vaksin, dengan syarat seluruh staf Lembaga Eijkman dibebaskan. Keputusan tersebut diambil untuk menghentikan penyiksaan terhadap rekan-rekannya dan menyelamatkan mereka dari hukuman yang lebih berat. Setelah sekitar 105 hari ditahan, sebagian besar staf akhirnya dibebaskan, sementara Achmad Mochtar tetap berada dalam tahanan.

Setelah menandatangani pengakuan itu, Achmad Mochtar tetap ditahan tanpa melalui proses peradilan. Pemerintah militer Jepang menjatuhkan hukuman mati kepadanya secara sepihak.

Pada 3 Juli 1945, Achmad Mochtar dibawa ke kawasan Ancol, Jakarta Utara, dan dieksekusi oleh Kenpeitai. Peristiwa tersebut terjadi hanya beberapa minggu sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Setelah eksekusi dilaksanakan, jenazah Achmad Mochtar diperlakukan secara tidak layak. Berdasarkan berbagai catatan sejarah, jasadnya dihancurkan dan kemudian dimakamkan di sebuah kuburan massal tanpa penanda yang jelas. Akibatnya, lokasi makamnya tidak diketahui selama puluhan tahun.

Penemuan Makam

Sesudah Jepang menyerah dan Indonesia memasuki masa revolusi, keberadaan makam Achmad Mochtar tidak pernah diketahui secara pasti. Dokumen-dokumen milik Kenpeitai yang berkaitan dengan eksekusinya sebagian besar telah dimusnahkan sehingga menyulitkan proses pelacakan.

Salah satu upaya pencarian dilakukan oleh dr. Ali Hanafiah, mantan asisten sekaligus adik iparnya yang selamat dari penyiksaan Kenpeitai. Ia berusaha menelusuri lokasi eksekusi berdasarkan berbagai informasi yang berhasil dikumpulkan. Meskipun sempat memperoleh petunjuk mengenai lokasi pemakaman, hasil pencarian tersebut tidak pernah memperoleh kepastian sehingga makam Achmad Mochtar tetap dianggap hilang selama puluhan tahun.

Perhatian terhadap kisah Achmad Mochtar kembali muncul setelah Lembaga Eijkman dihidupkan kembali pada awal dekade 1990-an. Direktur Lembaga Eijkman saat itu, Prof. Dr. Sangkot Marzuki, menemukan berbagai dokumen lama yang mendorong dilakukannya penelitian sejarah mengenai peristiwa tersebut.

Dalam proses investigasi, Sangkot Marzuki bekerja sama dengan Prof. Kevin Baird. Keduanya menelusuri arsip di Indonesia dan Belanda, mempelajari dokumen sejarah, serta mengumpulkan berbagai kesaksian mengenai peristiwa yang menimpa Achmad Mochtar.

Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil pada tahun 2010. Berdasarkan hasil penelusuran arsip dan pencocokan data, diketahui bahwa Achmad Mochtar dimakamkan di Ereveld Ancol, Jakarta Utara, dalam sebuah kuburan massal yang diberi penanda “Verzamelgraf Antjol“. Penemuan tersebut mengakhiri misteri mengenai lokasi makam Achmad Mochtar yang telah berlangsung selama lebih dari enam dekade.

Penghargaan

Seiring terungkapnya kembali kisah perjuangan Achmad Mochtar, berbagai bentuk penghargaan diberikan untuk mengenang jasa-jasanya di bidang ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. Pemerintah Indonesia menganugerahkan Satyalancana Kebaktian Sosial pada tahun 1968 sebagai bentuk penghormatan atas pengabdiannya kepada bangsa.

Pada tahun 1972, Achmad Mochtar kembali memperoleh penghargaan berupa Bintang Jasa Nararya. Namanya juga diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Achmad Mochtar di Bukittinggi, Sumatra Barat.

Sumber:

 

Share Article:

arsipmanusia.com

Writer & Blogger

Considered an invitation do introduced sufficient understood instrument it. Of decisively friendship in as collecting at. No affixed be husband ye females brother garrets proceed. Least child who seven happy yet balls young. Discovery sweetness principle discourse shameless bed one excellent. Sentiments of surrounded friendship dispatched connection is he. Me or produce besides hastily up as pleased. 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[tokoh_ulang_tahun]

Baru Terbit

  • All Post
  • Biodata
  • Biografi
  • Blog
  • Daftar Tokoh
  • Lembaga
  • Penghargaan
  • Peristiwa
  • Time Line

Join the family!

Sign up for a Newsletter.

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.

Jenderal AH Nasution

Jenderal Abdul Haris Nasution, lahir pada 3 Desember 1918, adalah sosok kunci dalam sejarah Indonesia yang memberikan kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan negara.

[tokoh_ulang_tahun]

[tokoh_ulang_tahun}
Edit Template

Terbaru

Hot News

TEAM:

©Maret 2023 – 2025 arsipmanusia.com

Scroll to Top