Tahi Bonar (T.B.) Simatupang merupakan seorang pemikir yang berperan besar dalam membangun fondasi organisasi Tentara Nasional Indonesia (TNI) setelah pengakuan kedaulatan. Di usia yang masih sangat muda, ia dipercaya menjadi Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP) dan memimpin proses profesionalisasi militer dengan situasi politik yang penuh gejolak.
Setelah mengakhiri karier militernya, ia tidak berhenti mengabdi kepada bangsa. Ia beralih menjadi tokoh gereja, pemikir kebangsaan, penulis, serta pelopor pendidikan manajemen modern di Indonesia.
Lebih dari tiga dekade setelah wafatnya, pemikiran T.B. Simatupang mengenai profesionalisme militer, supremasi sipil, toleransi beragama, dan pembangunan nasional masih menjadi rujukan dalam memahami perjalanan Republik Indonesia.
Table of Contents
ToggleLatar Belakang
Tahi Bonar Simatupang lahir di Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, pada 28 Januari 1920. Ia berasal dari keluarga Batak Toba yang menjunjung tinggi pendidikan, kedisiplinan, dan nilai-nilai kekristenan. Ayahnya, Simon Mangaraja Soaduan Simatupang, merupakan pegawai pos dan telegraf pada masa Hindia Belanda sekaligus seorang intelektual Batak yang menguasai bahasa Belanda. Sementara itu, ibunya, Mina Boru Sibuea, dikenal sebagai sosok sederhana yang memiliki keteguhan iman.
T.B. Simatupang merupakan anak kedua dari delapan bersaudara. Masa kecilnya diwarnai oleh kesulitan ketika sang ayah meninggal dunia saat ia masih belia. Kondisi ini membuat keluarga mengalami tekanan ekonomi sehingga harus berpindah dari Sidikalang ke Siborong-borong. Meski demikian, sang ibu tetap berusaha agar seluruh anaknya memperoleh pendidikan terbaik, bahkan hingga ke Pulau Jawa.
Lingkungan keluarga Simatupang dikenal sangat menghargai ilmu pengetahuan. Kakaknya, Sahala Hamonangan Simatupang, kelak menjadi tokoh di bidang telekomunikasi Indonesia, sedangkan adiknya, Prof. Dr. Tapi Omas Ihromi, dikenal sebagai antropolog terkemuka dan pelopor kajian perempuan di Indonesia.
Pendidikan
Masa kecil T.B. Simatupang sebagian besar dihabiskan di Pematangsiantar, kota yang pada masa kolonial dikenal sebagai wilayah dengan masyarakat multietnis dan multiagama. Ia mengenyam pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) dan lulus pada tahun 1934. Lingkungan sekolah dan kehidupan sosial di kota tersebut mempertemukannya dengan berbagai kelompok masyarakat sehingga membentuk pandangan yang inklusif sejak usia dini. Bahkan, selama tujuh tahun ia belajar bersama Harun Nasution, yang kemudian dikenal sebagai salah satu pembaru pemikiran Islam Indonesia.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Simatupang melanjutkan sekolah di MULO Kristen Dr. Nommensen di Tarutung dan lulus pada tahun 1937. Selanjutnya ia meneruskan pendidikan di Algemene Middelbare School (AMS) Salemba, Batavia, hingga tamat pada tahun 1940.
Ketika masih bersekolah di AMS, dalam pelajaran sejarah, seorang guru Belanda menyampaikan bahwa penduduk Hindia Belanda tidak akan pernah mampu bersatu menjadi sebuah bangsa dan tidak memiliki kemampuan membangun kekuatan militer modern.
Pernyataan tersebut langsung dibantah oleh Simatupang. Ia berpendapat bahwa anggapan mengenai rendahnya kemampuan bangsa Indonesia hanyalah mitos kolonial yang suatu saat akan dipatahkan oleh sejarah. Sikap kritis itu membuatnya diusir dari ruang kelas, tetapi pengalaman itu justru memperkuat tekadnya untuk membuktikan bahwa bangsa Indonesia mampu berdiri sejajar dengan bangsa lain.
Semula Simatupang bercita-cita menjadi dokter. Namun, pengalaman menghadapi pandangan diskriminatif tersebut mengubah arah hidupnya. Ia memilih memasuki dunia militer sebagai bentuk pembuktian bahwa rakyat Indonesia mampu menjadi pemimpin, ahli strategi, dan pendiri angkatan perang yang profesional.
Militer
Perjalanan karier T.B. Simatupang mencerminkan transformasi seorang perwira muda menjadi salah satu arsitek utama pembentukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) modern. Pengalamannya menghadapi perang, memimpin reorganisasi militer, hingga mempertahankan prinsip profesionalisme menjadikannya salah satu tokoh berpengaruh dalam sejarah pertahanan Indonesia. Tidak hanya dikenal sebagai jenderal lapangan, Simatupang juga dikenang sebagai pemikir militer yang meletakkan dasar hubungan ideal antara angkatan bersenjata dan negara.
Pendidikan Militer
Ketertarikan T.B. Simatupang terhadap dunia militer berawal dari keinginannya membuktikan bahwa bangsa Indonesia mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa Eropa. Setelah lulus dari AMS Salemba pada tahun 1940, ia diterima di Koninklijke Militaire Academie (KMA) Bandung, akademi militer bergengsi milik pemerintah Hindia Belanda.
Berbeda dengan banyak taruna lain yang memilih kecabangan infanteri, ia memilih spesialisasi Zeni (Corps of Engineers) karena meyakini bahwa kemampuan teknik akan dibutuhkan tidak hanya pada masa perang, tetapi juga dalam pembangunan negara setelah kemerdekaan.
Selama menjalani pendidikan, Simatupang dikenal sebagai taruna yang cerdas, kritis, dan memiliki kemampuan analitis yang kuat. Ia lulus sebagai salah satu taruna terbaik dan memperoleh penghargaan Taruna Mahkota Perak. Namun, pendidikannya tidak berlangsung lama karena pada tahun 1942 Jepang menduduki Hindia Belanda sehingga akademi militer dibubarkan.
Revolusi Kemerdekaan
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, T.B. Simatupang segera bergabung dengan angkatan bersenjata Republik yang masih dalam tahap pembentukan. Berbekal pendidikan militer formal yang dimilikinya, ia termasuk sedikit perwira Indonesia yang memahami doktrin militer modern.
Pada masa revolusi, tugas Simatupang tidak hanya memimpin pasukan di medan tempur, tetapi juga menyusun perencanaan operasi serta koordinasi antarsatuan. Ia turut menghadapi berbagai tantangan besar, seperti agresi militer Belanda, keterbatasan persenjataan, hingga proses penyatuan beragam laskar rakyat ke dalam organisasi tentara nasional.
Bersama Jenderal Soedirman
Karier T.B. Simatupang semakin menonjol ketika ia dipercaya menjadi salah satu staf utama Jenderal Soedirman, Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia. Dalam kapasitas tersebut, ia membantu penyusunan strategi perang, koordinasi operasi, serta komunikasi antara markas besar dan berbagai satuan tempur selama Revolusi Kemerdekaan.
Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer II pada Desember 1948 dan menduduki Yogyakarta, Simatupang ikut mendampingi Soedirman dalam perang gerilya. Meskipun kondisi kesehatan sang panglima terus menurun akibat penyakit tuberkulosis, Soedirman tetap memimpin perjuangan dari pedalaman Jawa. Sebagai staf utama, Simatupang ikut menyusun langkah-langkah strategis yang memungkinkan TNI mempertahankan eksistensinya hingga memperoleh pengakuan internasional.
Kedekatannya dengan Soedirman memberikan pengaruh besar terhadap karakter kepemimpinannya. Dari Soedirman, ia belajar bahwa keberhasilan tentara tidak hanya ditentukan oleh kekuatan persenjataan, tetapi juga oleh integritas moral, kedisiplinan, dan kepercayaan rakyat.
Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP)
setelah wafatnya Jenderal Soedirman pada tahun 1950, pada usia yang baru menginjak tiga puluh tahun, T.B. Simatupang dipercaya menduduki jabatan Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP), sebuah posisi yang menjadikannya salah satu perwira termuda yang pernah memimpin organisasi militer Indonesia.
Sebagai KSAP, Simatupang menghadapi tantangan yang sangat kompleks. Indonesia baru saja memperoleh pengakuan kedaulatan, sementara struktur militer masih terdiri atas berbagai bekas laskar perjuangan, personel KNIL yang bergabung, serta berbagai satuan daerah yang belum sepenuhnya terintegrasi. Ia memimpin proses konsolidasi organisasi agar seluruh kekuatan bersenjata berada di bawah satu sistem komando nasional.
Selain itu, ia juga harus menghadapi berbagai pemberontakan daerah dan dinamika politik yang memengaruhi kehidupan militer. Dalam situasi tersebut, Simatupang berupaya menjaga agar Angkatan Perang tetap fokus pada tugas pokoknya sebagai alat pertahanan negara, bukan sebagai alat perebutan kekuasaan politik.
Salah satu kontribusi terbesar T.B. Simatupang adalah gagasannya mengenai profesionalisasi Tentara Nasional Indonesia. Menurutnya, tentara yang lahir dari revolusi harus berkembang menjadi institusi negara yang modern, disiplin, memiliki sistem pendidikan yang kuat, serta tunduk kepada konstitusi dan pemerintahan sipil yang sah.
T.B. Simatupang mendorong penyusunan struktur organisasi yang lebih efektif, peningkatan kualitas pendidikan militer, serta pembentukan doktrin pertahanan nasional yang sesuai dengan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan. Simatupang juga menekankan pentingnya pengembangan kemampuan intelektual para perwira sehingga mereka tidak hanya mahir bertempur, tetapi juga mampu berpikir strategis dalam menghadapi tantangan keamanan nasional.
Baginya, profesionalisme merupakan benteng utama agar militer tidak mudah terseret ke dalam konflik politik praktis. Ia percaya bahwa tentara harus menjadi institusi negara yang menjaga stabilitas nasional, tetapi tetap menghormati prinsip demokrasi dan supremasi hukum. Gagasan-gagasan tersebut kemudian banyak dituangkannya dalam berbagai buku mengenai politik militer dan pertahanan yang menjadi rujukan hingga kini.
Konflik dengan Presiden Soekarno
Memasuki pertengahan dekade 1950-an, hubungan T.B. Simatupang dengan Presiden Soekarno mulai mengalami ketegangan. Perbedaan pandangan muncul terutama mengenai arah kebijakan politik nasional dan posisi militer dalam sistem pemerintahan. Simatupang berpandangan bahwa Angkatan Perang harus tetap profesional serta berada di bawah mekanisme konstitusional, sedangkan perkembangan politik pada masa itu semakin memperbesar keterlibatan militer dalam kekuasaan.
Ketegangan tersebut semakin meningkat ketika Soekarno mulai menerapkan konsep Demokrasi Terpimpin, yang memberikan ruang lebih besar bagi konsolidasi kekuasaan eksekutif dan perubahan hubungan antara pemerintah dengan militer. Simatupang menyampaikan berbagai kritik secara terbuka terhadap kecenderungan tersebut.
Meskipun berbeda pandangan dengan pemerintah, Simatupang tidak pernah mengajak militer melakukan tindakan di luar konstitusi. Ia tetap berpegang pada keyakinannya bahwa tentara harus menjadi alat negara yang bekerja berdasarkan hukum dan disiplin organisasi, bukan berdasarkan kepentingan politik sesaat. Prinsip inilah yang membuatnya dikenang sebagai salah satu perintis konsep militer profesional di Indonesia.
Pensiun Dini
Akibat perbedaan prinsip yang semakin tajam dengan arah kebijakan pemerintahan saat itu, T.B. Simatupang mengakhiri karier militernya pada usia yang relatif muda, sekitar 39 tahun. Namun, bagi Simatupang, pengabdian kepada bangsa tidak berakhir bersama pensiunnya dari dunia militer.
Setelah meninggalkan dinas aktif, ia mengalihkan perhatian kepada dunia pendidikan, gereja, manajemen, dan penulisan. Ia menjadi salah satu penggagas Institut Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (IPPM) serta aktif membina Yayasan Universitas Kristen Indonesia (UKI). Melalui lembaga-lembaga tersebut, ia berupaya membangun sumber daya manusia Indonesia yang profesional dan berintegritas, sebagaimana cita-citanya ketika masih menjadi perwira muda.
Masa pensiun justru menjadi periode ketika Simatupang semakin dikenal sebagai seorang intelektual publik. Melalui berbagai buku, ceramah, dan aktivitas organisasi, ia terus menyuarakan pentingnya kepemimpinan yang bermoral, profesionalisme militer, toleransi antarumat beragama, serta pembangunan bangsa berlandaskan Pancasila.
Kehidupan Pribadi
Di balik sosoknya sebagai jenderal dan pemikir militer, T.B. Simatupang dikenal sebagai pribadi yang sederhana, disiplin, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kekeluargaan. Ia meyakini bahwa seorang pemimpin harus terlebih dahulu mampu menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari sebelum memimpin orang lain. Nilai-nilai tersebut dibentuk sejak kecil melalui didikan keluarga Batak Kristen yang menekankan integritas, kerja keras, dan tanggung jawab.
T.B. Simatupang menikah dengan Sidartha Boru Manurung, pendamping setia dalam berbagai fase kehidupannya, mulai dari masa perjuangan kemerdekaan, karier militer, hingga pengabdian di bidang sosial dan keagamaan. Pernikahan mereka dikaruniai beberapa orang anak yang kemudian tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menempatkan pendidikan, etika, dan pelayanan kepada masyarakat sebagai nilai utama. Meskipun memegang jabatan tinggi, Simatupang selalu berusaha menyediakan waktu bagi keluarganya dan menjaga kehidupan rumah tangga tetap harmonis.
Sebagai kepala keluarga, ia dikenal tidak menerapkan pola hidup yang berlebihan. Baginya, keberhasilan seseorang tidak diukur dari kekayaan atau kedudukan, melainkan dari manfaat yang diberikan kepada sesama. Prinsip tersebut turut diwariskan kepada anak-anaknya, sehingga keluarga Simatupang dikenal sebagai keluarga yang menghargai pendidikan, kejujuran, dan pelayanan publik.
Salah satu ciri yang paling menonjol dari T.B. Simatupang adalah kegemarannya membaca. Sejak muda ia mengoleksi berbagai buku mengenai sejarah, strategi militer, filsafat, politik, ekonomi, hingga teologi. Kebiasaan membaca tersebut membuat wawasan intelektualnya jauh melampaui kebanyakan perwira pada zamannya, sehingga ia sering dijuluki sebagai “Jenderal Pemikir” atau “Tentara Intelektual.”
Selain membaca, Simatupang juga senang menulis. Ia terbiasa mencatat gagasan, pengalaman, maupun refleksi mengenai kehidupan berbangsa. Aktivitas tersebut kemudian melahirkan berbagai buku dan artikel yang membahas profesionalisme militer, hubungan gereja dengan negara, pembangunan nasional, serta etika kepemimpinan.
Dalam kehidupan sehari-hari, Simatupang dikenal sebagai pribadi yang tenang, rendah hati, dan terbuka terhadap perbedaan pendapat. Ia tidak segan berdiskusi dengan kalangan akademisi, mahasiswa, rohaniwan, maupun pejabat pemerintah. Kemampuan berpikir kritis yang dimilikinya membuat ia sering menyampaikan pandangan secara lugas, namun tetap berdasarkan argumentasi yang rasional.
Pemikiran dan Karya
Salah satu pemikiran T.B. Simatupang yang paling berpengaruh adalah konsep profesionalisme militer, yaitu, tentara harus menjadi alat negara yang bekerja berdasarkan konstitusi, disiplin organisasi, dan kepentingan nasional, bukan kepentingan politik praktis. Pemikiran tersebut muncul dari pengalamannya menyaksikan langsung dinamika Revolusi Kemerdekaan hingga masa awal pembangunan negara.
Simatupang menilai bahwa kemenangan dalam perang tidak cukup hanya mengandalkan keberanian prajurit. Sebuah angkatan bersenjata harus memiliki pendidikan yang baik, sistem komando yang jelas, doktrin yang kuat, serta kemampuan berpikir strategis. Karena itu, ia sangat mendorong peningkatan kualitas pendidikan perwira dan pengembangan budaya intelektual di lingkungan militer.
Di bidang politik, Simatupang meyakini bahwa demokrasi yang sehat membutuhkan pembagian peran yang jelas antara pemerintahan sipil dan militer. Tentara harus mendukung stabilitas negara, tetapi tidak boleh menjadi alat perebutan kekuasaan.
Selain itu, Simatupang juga banyak menulis mengenai hubungan antara agama dan negara. Menurutnya, Pancasila merupakan landasan yang memungkinkan seluruh kelompok agama hidup berdampingan dalam semangat persatuan. Ia menolak pandangan yang mempertentangkan nasionalisme dengan agama, dan justru melihat keduanya sebagai kekuatan yang saling melengkapi dalam membangun Indonesia.
Gereja, Pendidikan, dan Organisasi
Setelah pensiun dari dunia militer, T.B. Simatupang memasuki fase baru sebagai tokoh masyarakat dan cendekiawan. Ia aktif dalam Dewan Gereja Indonesia (DGI) yang kemudian menjadi Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), serta aktif dalam berbagai forum gereja tingkat internasional.
Di bidang pendidikan, ia turut menggagas berdirinya Institut Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (IPPM), yang kemudian berkembang menjadi PPM Manajemen. Lembaga ini memperkenalkan pendidikan manajemen modern di Indonesia. Selain itu, Simatupang juga aktif dalam pembinaan Yayasan Universitas Kristen Indonesia (UKI) dan mendorong peningkatan kualitas pendidikan tinggi sebagai bagian dari pembangunan nasional.
Ia juga menjadi pembicara di berbagai seminar nasional maupun internasional mengenai pembangunan, hubungan gereja dan negara, kepemimpinan, serta perdamaian dunia.
Di bidang sosial dan keagamaan, Simatupang dikenang sebagai tokoh yang berhasil menjembatani nilai-nilai kekristenan dengan semangat kebangsaan Indonesia. Ia menunjukkan bahwa iman dapat menjadi sumber motivasi untuk mengabdi kepada masyarakat tanpa mengurangi penghormatan terhadap keberagaman agama dan budaya.
Bagi dunia pendidikan, T.B. Simatupang meninggalkan teladan bahwa seorang pemimpin harus terus belajar sepanjang hayat. Ia membuktikan bahwa seorang jenderal tidak hanya diukur dari keberhasilannya memenangkan pertempuran, tetapi juga dari kemampuannya melahirkan gagasan yang membangun bangsa.
Akhir Hidup
T.B. Simatupang wafat di Jakarta pada 1 Januari 1990, dalam usia 69 tahun. Berita wafatnya mendapat perhatian luas dari kalangan militer, pemerintah, akademisi, maupun organisasi gereja.
Jenazahnya dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta Selatan. Prosesi pemakaman berlangsung dengan penghormatan militer sebagai bentuk penghargaan negara atas jasa-jasanya dalam mempertahankan kemerdekaan dan membangun Angkatan Perang Republik Indonesia.
Penghargaan
Sepanjang hidupnya, T.B. Simatupang menerima berbagai penghargaan atas pengabdiannya kepada negara dan masyarakat. Sebagian besar penghargaan tersebut diberikan atas jasanya dalam mempertahankan kemerdekaan, membangun organisasi militer nasional, serta kontribusinya di bidang pendidikan dan kehidupan beragama.
Beberapa penghargaan yang pernah diterimanya antara lain:
- Bintang Mahaputera Adipradana, atas jasa luar biasa beliau dalam mempertahankan keutuhan dan kejayaan NKRI
- Bintang Gerilya, atas partisipasinya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
- Bintang Dharma, atas jasa dan pengabdian dalam bidang pertahanan.
- Satyalancana Perang Kemerdekaan I & II, sebagai penghargaan kepada pejuang Revolusi Nasional Indonesia.
- Berbagai penghargaan dari organisasi gereja nasional maupun internasional atas kontribusinya dalam dialog antaragama, pelayanan gereja, dan pembangunan masyarakat.
- Penghargaan dari sejumlah lembaga pendidikan dan organisasi profesional atas dedikasinya dalam pengembangan pendidikan manajemen, kepemimpinan, dan pembangunan sumber daya manusia.
Selain penghargaan resmi, T.B. Simatupang juga memperoleh pengakuan luas sebagai salah satu pemikir militer terbesar Indonesia. Banyak akademisi menempatkannya sejajar dengan Jenderal Besar Soedirman dan Jenderal A.H. Nasution sebagai tokoh yang memberi fondasi konseptual bagi perkembangan TNI modern.
Pengakuan tertinggi dari negara terhadap jasa T.B. Simatupang diberikan ketika pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional Indonesia melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 68/TK Tahun 2013. Gelar tersebut diumumkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjelang peringatan Hari Pahlawan pada tahun 2013.
Penganugerahan ini didasarkan pada kontribusinya yang sangat besar dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, membangun organisasi Tentara Nasional Indonesia setelah Revolusi Kemerdekaan, serta mengembangkan konsep profesionalisme militer yang menjadi salah satu fondasi pertahanan negara. Selain itu, negara juga mengakui pengabdiannya yang berkelanjutan di bidang pendidikan, keagamaan, dan pembangunan masyarakat setelah pensiun dari dinas militer.
Sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya, nama T.B. Simatupang diabadikan di berbagai tempat dan institusi di Indonesia. Salah satu yang paling dikenal adalah Jalan Letjen T.B. Simatupang di Jakarta Selatan, yang menjadi salah satu jalan arteri utama di ibu kota dan dikenal sebagai kawasan pusat bisnis serta perkantoran.
Nama T.B. Simatupang juga digunakan oleh berbagai institusi pendidikan, gedung, ruang pertemuan, dan fasilitas militer sebagai simbol kepemimpinan, integritas, dan profesionalisme. Di lingkungan Tentara Nasional Indonesia, pemikiran-pemikirannya masih dipelajari sebagai bagian dari sejarah perkembangan organisasi dan doktrin pertahanan nasional.
Selain itu, sejumlah buku, seminar, dan kajian akademik terus mengangkat gagasan-gagasannya mengenai hubungan sipil-militer, kepemimpinan, Pancasila, serta peran agama dalam pembangunan bangsa. Dengan demikian, pengabadian namanya tidak hanya berbentuk monumen fisik, tetapi juga melalui pelestarian pemikiran yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sumber:
- Setyawati, Sri. “T.B. Simatupang” biokristi.sabda.org. (Diakses pada 28 Juli 2026)
- “TB Simatupang” tokoh.id, 8 Nov 2004. (Diakses pada 28 Juli 2026)
- “Sang Jenderal yang Berutang” tokoh.id, 8 Nov 2004. (Diakses pada 28 Juli 2026)
- “Emil Salim: TB Simatupang adalah Jendral Cerdas dan Berintegritas” www.majalahgaharu.com, 29 Jan 2020. (Diakses pada 28 Juli 2026)
- Hasibuan, Imran. “Jenderal TB Simatupang, Militer, Politik dan Gereja” koransulindo.com, 16 Jan 2019. (Diakses pada 28 Juli 2026)
- Purba, Sanggup. “Letjen TNI (Purn) Tahi Bonar Simatupang” analisadaily.com, 27 Jan 2015. (Diakses pada 28 Juli 2026)
- “T.B. Simatupang: ”Dari Gerilya ke Gereja, dari Senjata ke Pena”” www.alkitab.or.id, 14 Jun 2025. (Diakses pada 28 Juli 2026)
- Simorangkir, Sutrisno. “Batara Ningrat Simatupang, Pendekar Ekonomi yang Tak Henti Mengais Ilmu” wahananews.co ,20 Mar 2024. (Diakses pada 28 Juli 2026)
- Raditya, Iswara N. “Sejarah 28 Januari: Lahirnya T.B. Simatupang Sang Penerus Soedirman” tirto.id, 28 Jan 2019. (Diakses pada 28 Juli 2026)
- Ayuwuragil, Kustin. “Jenderal TB Simatupang dan ‘Perkelahiannya’ dengan Sukarno” www.cnnindonesia.com, 17 Agu 2018. (Diakses pada 28 Juli 2026)
- Yurivito, Benedictus. “TB Simatupang, Jenderal Pemikir Penerus Soedirman” klasika.kompas.id, 20 Agu 2019.(Diakses pada 28 Juli 2026)









