Want to Partnership with me? Book A Call

Popular Posts

  • All Post
  • Biografi
  • Lembaga
  • Penghargaan
  • Peristiwa
    •   Back
    • Pemimpin
    • Agama
    • Seniman
    • Pahlawan
    • Politik
    • Militer
    • Islam
    • Kristen
    • Katolik
    • Budha
    • Pencipta Lagu
    • Musisi
    • Penyanyi
    • Komedian
    • Aktor
    •   Back
    • Pencipta Lagu
    • Musisi
    • Penyanyi
    • Komedian
    • Aktor
    •   Back
    • Bintang
    • Satyalancana
    • Lencana Internasional
    •   Back
    • Islam
    • Kristen
    • Katolik
    • Budha
    •   Back
    • Kabinet
    •   Back
    • Pahlawan
    • Politik
    • Militer
    •   Back
    • Perang

Categories

Edit Template

Nike Ardilla: Ratu Rock yang Tak Lengkang Oleh Waktu

Nike Ardilla, yang merupakan figur terkemuka dalam dunia musik Indonesia pada masanya, terkenal sebagai penyanyi paling populer di zamannya dan diakui sebagai Ratu Rock Indonesia selama masa hidupnya. 

Pada awal karirnya, meskipun awalnya bukan penyanyi bergenre Rock, popularitasnya terus meningkat, dengan lagu-lagu dan album musiknya yang terjual dalam jumlah jutaan kopi. Sayangnya, di puncak kepopulerannya sebagai seorang penyanyi, ia meninggal dunia pada usia muda, yaitu 19 tahun, akibat kecelakaan. Bagaimana perjalanan hidupnya?

Masa Kecil dan Awal Karir

Nike, putri dari R. Eddy Kusnadi dan Nining Ningsihrat, menunjukkan minatnya dalam dunia tarik suara sejak usia dini. Bakat menyanyi Nike mulai berkembang sejak usia 5 tahun, dipengaruhi oleh darah seni kakeknya yang merupakan penyanyi keroncong. 

Sejak kecil, ia aktif dalam kegiatan seni, mulai dari menyanyi hingga menari tarian daerah. Pada usia 5 tahun, Nike bahkan sudah berani tampil menyanyi dalam acara keluarga di rumahnya.

Semakin serius menekuni panggung tarik suara, Nike memenangkan Juara Harapan I dalam ajang Lagu Pilihanku TVRI dan Festival Pop Singer HAPMI Kodya Bandung pada tahun 1985, ketika ia baru berusia 10 tahun. 

Nike aktif berpartisipasi dalam berbagai festival musik mulai dari tingkat kecamatan, sekolah, hingga mewakili provinsi Jawa Barat dalam Festival Pop Singer tingkat nasional.

Setelah meraih berbagai kontes menyanyi, ibunya mendaftarkan Nike ke Himpunan Artis Penyanyi Musisi Indonesia (HAPMI) di bawah asuhan Djadjat Paramor. Dengan bergabung dengan manajemen Denny Sabri, seorang wartawan musik senior terkemuka pada masa itu, Nike, yang masih berstatus pelajar kelas 5 SD, tampil di panggung musik rock dengan nama panggung Nike Astrina. 

Nama ini diberikan dengan tujuan bersaing dengan Nicky Astria, penyanyi rock terkenal pada saat itu. Nike sering menjadi penampil pembuka untuk konser penyanyi senior seperti Nicky Astria, Ita Purnamasari, dan Ikang Fawzi. 

Meskipun Nike tidak memiliki lagu sendiri, Nike menyanyikan lagu-lagu rock Barat seperti Europe’s “The Final Countdown” dan The Rolling Stones’ “Honky Tonk Woman”.

Nike memulai karir rekamannya dengan merilis single “Lupa Diri” pada tahun 1986. Lagu ini kemudian dimasukkan ke dalam album kompilasi “Bandung Rock Power” (1987). 

Pada bulan Juli 1988, setelah lulus dari sekolah dasar, Nike merekam album perdananya di bawah naungan JK Records. Namun, album tersebut tidak dirilis karena usia Nike yang masih sangat muda pada saat itu, sementara sebagian besar lirik lagunya bertema roman.

Puncak Karir

Pada permulaan tahun 1989, Nike mulai mengejar karier aktingnya dengan berperan dalam film layar lebar berjudul “Gadis Foto Model.” Dalam produksi tersebut, Nike juga berkontribusi sebagai penyanyi untuk soundtrack, yang kemudian dirilis melalui album “OST Gadis Foto Model.”

Pada bulan Oktober 1989, ketika bergabung dengan Proyek Q Records, Nike berhasil meluncurkan album debutnya, “Seberkas Sinar,” yang diproduseri oleh Deddy Dores. 

Dalam karya ini, nama panggung Nike yang sebelumnya adalah Nike Astrina diubah menjadi Nike AR, singkatan dari Astrina dan Ratnadilla. Namun, penggunaan nama tersebut tidak berlangsung lama, dan akhirnya diubah kembali menjadi Nike Ardilla.

Sejak perilisan album perdana di akhir 1989, nama Nike Ardilla meroket menjadi salah satu artis papan atas yang patut diperhitungkan. Manajemen Deni Sabri telah mempersiapkan Nike untuk menjadi artis serba bisa, menggantikan posisi Cut Irna yang terkenal sebagai model, Meriam Bellina sebagai bintang film ternama, dan Nicky Astria sebagai diva rock ’80-an.

Menurut Deni, Nike adalah gabungan dari karakteristik Nicky Astria, Meriam Bellina, dan Cut Irna. Bahkan sebelum kesuksesan album perdana di pasaran, Nike sudah terlibat dalam produksi beberapa film box office di era tersebut, serta berkegiatan dalam dunia modeling dan pertunjukan di berbagai daerah dari Aceh hingga Irian Jaya. 

Dengan album “Bintang Kehidupan”, yang terjual sebanyak 2.000.000 kopi, dominasi Nike Ardilla di industri hiburan dimulai pada tahun 1990.

Kesuksesan berlanjut dengan pemilihan Nike Ardilla sebagai GADIS Sampul Favorit dalam ajang model yang sangat prestisius. Setiap tahunnya, jadwal konsernya penuh, tampil dalam acara selebritas dan ajang penghargaan, membintangi beberapa film box office, menjadi bintang iklan, muncul di sampul majalah, dan lain sebagainya. 

Meskipun karirnya terbilang singkat (1988-1995), hanya selama 6 tahun, namun dalam periode singkat tersebut, kariernya bersinar dengan gemilang.

Prestasinya tidak hanya dalam bidang musik, tetapi Nike juga berkiprah dalam industri film Indonesia, menjadi pemeran utama dalam puluhan film box office. 

Bahkan, ia menjadi pemeran utama dalam film “Kabayan,” yang sebelumnya diperankan oleh Paramitha Rusady sebagai tokoh wanita utamanya. Nike juga sempat tampil dalam salah satu sinetron berjudul “None,” yang disutradarai oleh Putu Wijaya, dengan rating tinggi.

Wafat

Pada tanggal 19 Maret 1995, sekitar pukul 06.15 pagi, Nike Ardilla meninggal dalam sebuah kecelakaan tunggal. Kejadian itu terjadi ketika mobil Honda Civic berwarna biru metalik dengan plat nomor D 27 AK menabrak pagar beton bak sampah di Jalan Raden Eddy Martadinata. 

Diperkirakan Nike tewas secara instan, meskipun saksi di sekitar lokasi kecelakaan menyatakan bahwa Nike belum meninggal saat kejadian, baru kemudian meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.

Nike mengalami luka parah di kepala dan memar di dadanya. Pada saat itu, Nike bersama manajernya, Sofiatun, baru saja pulang dari diskotik Polo. 

Terdapat isu-isu negatif terkait kematiannya, seperti dugaan bahwa Nike mengemudi dalam keadaan mabuk. Namun, kabar tersebut tegas dibantah oleh keluarga dan saksi kunci kecelakaan. Sofiatun menyatakan bahwa Nike hanya meminum jus jeruk.

Hasil visum polisi menyatakan bahwa tidak ada kadar alkohol yang terdeteksi dalam tubuh Nike. Waktu kematian Nike Ardilla menciptakan kebingungan, dengan saksi kecelakaan mengklaim bahwa insiden terjadi pada pukul 3 pagi, sementara saksi lain menyebutkan pukul 5.45 pagi. 

Laporan resmi kemudian menetapkan waktu kejadian pada pukul 06.15 pagi. Nike Ardilla langsung dimakamkan pada sore harinya, dihadiri oleh ribuan penggemar dan rekan artis di ibu kota. Kematiannya menciptakan gejolak dalam dunia hiburan Indonesia, dengan para penggemar yang setia berkumpul di kediaman Nike Ardilla bahkan beberapa hari setelah kepergiannya.

Menurut Atun, yang bersama Nike berada di dalam mobil, dalam perjalanan pulang, Nike mengemudikan mobil tanpa menggunakan sabuk pengaman. Saat mencoba menyalip mobil merah yang bergerak lambat di depannya, mobil Taft yang melaju kencang muncul dari arah berlawanan. 

Nike berusaha menghindari benturan dengan mobil Taft tersebut, namun akhirnya mobil terpental dan menabrak pohon, serta akhirnya menabrak pagar beton bak sampah di kantor Usaha Pribadi di Jalan RE. Martadinata. Nike menghembuskan napas terakhirnya dalam kejadian tersebut.

Wafat di puncak popularitasnya, Nike Ardilla tetap produktif dalam merilis album, meskipun isi albumnya tetap sama, hanya berganti sampul. Selama sejarah dunia hiburan Indonesia, Nike Ardilla menjadi satu-satunya artis yang mendapat penghormatan tertinggi, dengan setiap tanggal kelahiran dan kematian selalu diperingati.

Pengaruh Nike Ardilla

Setiap tahun, ribuan orang melakukan ziarah, baik itu secara harian atau untuk memperingati tanggal kematian dan kelahiran Nike Ardilla. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Nike Ardilla menjadi simbol kejayaan dalam budaya pop. Sejak awal kariernya, berbagai poster Nike menghias ruang publik, termasuk kafe, bus, TV, sekolah, dan lainnya.

Bahkan setelah meninggal, nama Nike Ardilla terus hadir dalam ruang publik. Hal ini terlihat dari tempat-tempat suci yang didirikan untuk mengenangnya, seperti Nike Ardilla Resto and Gallery di Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan. Seolah-olah museum, makamnya selalu ramai dikunjungi oleh berbagai kalangan. 

Tidak berlebihan jika George Quinn menyatakan bahwa Nike Ardilla dianggap setara dengan Para Wali. Pengaruh kematiannya masih terasa dalam ruang-ruang publik hingga saat ini.

Tidak lama setelah kematiannya, popularitasnya malah meningkat. Publik terus membicarakan tentang Nike Ardilla. Majalah Asia Week bahkan menggambarkan Nike dengan kalimat satir “In Dead She Soared” atau “Dalam Kematian Dia Melambung.” 

Setiap tahun, ribuan penggemar yang tergabung dalam Nike Ardilla Fans Club melakukan ritual khusus pada tanggal 19 Maret dan 27 Desember, yaitu berziarah ke makam dan mengadakan acara untuk mengenang Nike, seperti memutar film-film Nike dan menyanyikan lagu-lagu Nike di Bandung, tempat kelahiran dan kepergian Nike.

Sebuah museum juga didirikan di Jalan Soekarno-Hatta, Bandung, yang menyimpan segala barang miliknya, termasuk pakaian yang dikenakannya saat kejadian dan replika kamar Nike. Hampir semua album rekaman lagu-lagu Nike berhasil meraih penghargaan, khususnya dalam hal penjualan. 

Dalam waktu yang relatif singkat, Nike berhasil membangun popularitas dan fanatisme penggemar yang melampaui pencapaian penyanyi terkenal yang sudah aktif selama puluhan tahun di industri hiburan.

Di Sulawesi Barat, ada sebuah rumah makan bernama Rumah Makan Nike Ardilla di Wonomulyo, Polewali Mandar. Setiap harinya, tempat tersebut memutar lagu-lagu Nike. 

Setelah 23 tahun kepergian Nike, pada tahun 2018, musisi Melly Goeslaw berbagi kenangan tentang persahabatan mereka setelah merilis lagu “Bintang di Hati” pada tanggal 7 September. Lagu ini menjadi soundtrack untuk film Dancing in the Rain dan sinetron Samudra Cinta.

Share Article:

arsipmanusia.com

Writer & Blogger

Considered an invitation do introduced sufficient understood instrument it. Of decisively friendship in as collecting at. No affixed be husband ye females brother garrets proceed. Least child who seven happy yet balls young. Discovery sweetness principle discourse shameless bed one excellent. Sentiments of surrounded friendship dispatched connection is he. Me or produce besides hastily up as pleased. 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baru Terbit

  • All Post
  • Biografi
  • Lembaga
  • Penghargaan
  • Peristiwa
    •   Back
    • Pemimpin
    • Agama
    • Seniman
    • Pahlawan
    • Politik
    • Militer
    • Islam
    • Kristen
    • Katolik
    • Budha
    • Pencipta Lagu
    • Musisi
    • Penyanyi
    • Komedian
    • Aktor
    •   Back
    • Pencipta Lagu
    • Musisi
    • Penyanyi
    • Komedian
    • Aktor
    •   Back
    • Bintang
    • Satyalancana
    • Lencana Internasional
    •   Back
    • Islam
    • Kristen
    • Katolik
    • Budha
    •   Back
    • Kabinet
    •   Back
    • Pahlawan
    • Politik
    • Militer
    •   Back
    • Perang

Jenderal AH Nasution

Jenderal Abdul Haris Nasution, lahir pada 3 Desember 1918, adalah sosok kunci dalam sejarah Indonesia yang memberikan kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan negara.

Join the family!

Sign up for a Newsletter.

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.
Edit Template

About

Arsip Manusia

Arsip Manusia, blog biografi tokoh terkenal, dibuat Maret 2023. Kami membagikan cerita inspiratif dan menerima kontribusi tulisan dari penulis luar setelah seleksi ketat. Konten bebas politik, kebencian, dan rasisme; saat ini tanpa bayaran.

Recent Post

Team

Scroll to Top