Want to Partnership with me? Book A Call

Popular Posts

  • All Post
  • Biografi
  • Lembaga
  • Penghargaan
  • Peristiwa
    •   Back
    • Pemimpin
    • Agama
    • Seniman
    • Pahlawan
    • Politik
    • Militer
    • Islam
    • Kristen
    • Katolik
    • Budha
    • Pencipta Lagu
    • Musisi
    • Penyanyi
    • Komedian
    • Aktor
    •   Back
    • Pencipta Lagu
    • Musisi
    • Penyanyi
    • Komedian
    • Aktor
    •   Back
    • Bintang
    • Satyalancana
    • Lencana Internasional
    •   Back
    • Islam
    • Kristen
    • Katolik
    • Budha
    •   Back
    • Kabinet
    •   Back
    • Pahlawan
    • Politik
    • Militer
    •   Back
    • Perang

Categories

Edit Template

Yos Sudarso: Pahlawan Laut Aru yang Membela Kemerdekaan Indonesia

Yos Sudarso, seorang tokoh pahlawan nasional yang dikenal di Indonesia, telah diabadikan dalam sejarah dengan pemberian nama pada jalan-jalan di seluruh wilayah Indonesia dan sebuah pulau di Papua. 

Salah satu peristiwa yang paling terkenal dalam perjalanan hidupnya adalah keterlibatannya dalam misi pembebasan Irian Barat (Papua) melalui pertempuran Laut Aru yang legendaris. 

Dalam pertempuran laut tersebut, dia memimpin perlawanan terhadap armada kapal Belanda. Bagaimana kisahnya? Untuk memahami lebih lanjut, mari kita jelajahi profil dan biografi Yos Sudarso secara mendalam.

Masa Kecil Yos Sudarso dan Pendidikannya

Yosaphat Sudarso, seorang pemuda berpostur kecil, dilahirkan pada 24 November 1925 di Salatiga, Jawa Tengah, sebagai putra dari Mariyam dan Sukarno Darmoprawiro, seorang agen polisi. 

Tinggal di desa Sidorejo Lor, Yos Sudarso menjadi murid berprestasi dan cerdas yang dikenal akan ketenangannya serta sikap sopan santunnya. Meskipun orang tuanya mengharapkannya menjadi seorang guru setelah ia menyelesaikan pendidikannya di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Salatiga, Yos memilih jalur maritime dan melanjutkan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwij (MULO) di Semarang pada tahun 1940.

Namun, pendidikannya di MULO Semarang terhenti hanya dalam lima bulan karena kedatangan tentara Jepang, dan ia kembali ke Salatiga untuk melanjutkan pendidikannya.

Pada tahun yang sama dengan kelulusannya dari MULO, ia bergabung dengan Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT) di Semarang untuk mempelajari bagian dek. Meskipun hanya belajar selama satu tahun, prestasinya bersinar, dan pada tahun 1944, ia lulus dengan nilai tertinggi. Setelah lulus, ia diterima sebagai mualim di kapal Gyo Osamu Butai.

Bergabung Dengan Militer dan Memimpin Ekspedisi ke Maluku

Setelah Proklamasi Kemerdekaan dan pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Laut di Semarang, Yos Sudarso segera bergabung. Dalam situasi yang berubah pasca Proklamasi, para pemuda sibuk melakukan perebutan kekuasaan dari tangan Jepang. 

Bersama anggota BKR Laut Semarang lainnya, Yos berhasil menduduki komplek SPT di Karangtempel dan Purwodinatan, serta beberapa gedung di komplek pelabuhan Semarang. Perebutan kekuasaan ini berujung pada pecahnya Pertempuran Lima Hari di Semarang pada 14-19 Oktober 1945, di mana BKR Laut Semarang bertugas di front Jalan Bojong dan Komplek Pelabuhan.

Setelah situasinya mereda, Yos dan rekannya memindahkan pusat kegiatan dari Semarang ke Tegal, di mana mereka melaksanakan tugas dan latihan-latihan. Yos sangat menikmati tugas-tugas yang menantang dan petualangan. 

Dia bahkan mengambil inisiatif untuk bergabung dalam sebuah ekspedisi laut ke Indonesia bagian timur dan Maluku, di mana dia dipercaya sebagai salah satu pemimpinnya. 

Ekspedisi ini bertujuan untuk memperkuat semangat proklamasi 17 Agustus di kepulauan Maluku. Mereka berangkat dari pelabuhan Tegal pada 31 Maret 1946 dengan menggunakan dua kapal kayu tua, yaitu kapal Semeru di bawah komando Moelyadi dan kapal Sindoro di bawah komando Ibrahim Saleh, dengan Yos Sudarso sebagai perwira satu.

Rombongan ekspedisi memilih jalur pelayaran yang dianggap aman, melalui rute Utara melalui Kalimantan-Pulau Selayar-Maluku Selatan. Namun, kedua kapal mengalami masalah mesin yang mengakibatkan mereka terpaksa berlabuh di Tanjung Punting, Kalimantan Selatan, dan kemudian di perairan Banjarmasin. 

Karena perairan Banjarmasin dinilai rawan, akhirnya mereka memutuskan untuk menghindari daerah tersebut. Perjalanan mereka juga terhambat oleh cuaca buruk, dengan kapal mengalami oleng dan tali pengikatnya putus. Meskipun demikian, mereka berhasil melanjutkan pelayaran setelah memperbaiki kapal di pulau Laut Kecil.

Ketika ekspedisi melanjutkan perjalanan ke kepulauan Maluku, kapal Sindoro kembali mengalami kerusakan mesin di perairan Utara Buru. 

Karena persediaan pangan habis dan perbaikan mesin memakan waktu lama, Yos memutuskan untuk mendekati pulau Buru dengan sebuah sekoci bersama dua anak buahnya. Meskipun menghadapi berbagai kesulitan dan prasangka buruk dari anak buahnya, Yos akhirnya berhasil kembali ke kapal dengan membawa persediaan pangan. 

Setelah perbaikan mesin selesai, Sindoro melanjutkan perjalanan menuju Namlea di pulau Buru, sementara Semeru menuju pulau Tambelau dan kemudian ke Halmahera. Namun, di Namlea terjadi pemberontakan yang menyebabkan Sindoro diserang dan Yos serta anak buahnya ditawan oleh musuh.

Setelah lebih dari setahun menjadi tahanan Belanda, Yos akhirnya dibebaskan dan melaporkan diri kepada pimpinan ALRI. Dia kemudian diperintahkan untuk mengikuti pendidikan latihan Opsir ALRI di Kalibakung, Tegal, selama tiga bulan. 

Setelah itu, dia mendapat tugas baru di Markas Besar Umum ALRI Yogyakarta sebagai Perwira Staf Operasi III/Urusan Personalia. Dia juga pernah menjadi Perwira Penghubung pada Central Joint Committee di Kementerian Pertahanan pada Agustus 1949. Komite ini bertanggung jawab atas masalah penarikan tentara Belanda dari kota-kota, yang kemudian diambil alih oleh TNI.

Menumpas Pemberontakan

Yos Sudarso mengalami karier lapangan tambahan ketika terlibat dalam penumpasan pemberontakan Andi Azis di Makassar. 

Dalam Gerakan Operasi Militer III (GOM III), ALRI bertugas melakukan blokade laut di perairan Makassar, mengangkut pasukan Angkatan Darat, dan melakukan bombardemen dari laut terhadap sasaran musuh di darat. Yos Sudarso, sebagai letnan, bertugas pada KRI Banteng yang memberikan perlindungan pendaratan Batalyon Worang di Jeneponto. 

Pada tanggal 19 April 1950, pendaratan dilakukan tanpa perlawanan, sementara pada 21 April, Yos Sudarso bersama KRI Hangtuah dan KRI Banteng memasuki Makassar tanpa perlawanan lebih lanjut. Operasi serentak di seluruh pantai Sulawesi Selatan dilaksanakan pada 26 April 1950.

Yos Sudarso juga terlibat dalam memerangi pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) di Maluku Selatan. Ia bertugas membersihkan wilayah pantai atau memberikan perlindungan tembakan kepada pasukan yang ditempatkan bersama kapal lainnya. 

Setelah menyelesaikan tugas Operasi GOM III dan IV selama 8 bulan dari April hingga November 1950, Yos Sudarso diperintahkan untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Angkatan Laut (SAL) di Surabaya. 

Setelah menyelesaikan kursus ini, ia ditugaskan sebagai perwira pendidikan di SAL pada Juli 1952. Setelah itu, ia diberi kesempatan untuk mengikuti kursus Anti Kapal Selam di Belanda. Pada November 1953, dia dipromosikan sebagai anggota Penguji Tetap Kursus Ulangan dan Tambahan Tingkat Bintara (KUTB).

Deputi I/Operasi KSAL

Berikutnya, Yos Sudarso diberi tugas baru sebagai Komandan Kapal Perang KRI Alu-alu, sambil menjabat sebagai Komandan Divisi II Eskader Angkatan Laut sejak April 1954. 

Pada akhir 1954, dia kembali ke tugas staf sebagai Perwira Staf Operasi di Markas Besar Angkatan Laut. Setelah menyelesaikan berbagai tugas lapangan, staf, dan pendidikan, dia mengikuti kursus ulangan dan tambahan tingkatan perwira mulai Juli 1955.

Setelah menyelesaikan pendidikan, dia menjabat sebagai Perwira Pertama pada kapal perang KRI Gajah Mada sejak 1 Juli 1956. Selanjutnya, dia diperbantukan pada pengawas pembuatan kapal ALRI di bawah pimpinan Mayor RE Martadinata di Italia. 

Dia juga menjabat sebagai Hakim Pengadilan Tentara dari 1 Agustus 1958 hingga 30 Desember 1958, dan sebagai Komandan KRI Pattimura dengan pangkat mayor dari 30 Desember 1958 hingga 3 Agustus 1959.

Pada tahun 1959, ada reaksi tidak senang di kalangan Perwira Muda terhadap kebijakan pimpinan Angkatan Laut yang kurang memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan keahlian mereka. 

Reaksi ini, meskipun bermaksud baik, menyebabkan penunjukan Kolonel Martadinata sebagai KSAL baru oleh pemerintah. Martadinata kemudian menunjuk Yos Sudarso sebagai Deputi I KSAL karena pengalaman dan sikap tegasnya.

Yos Sudarso dilantik sebagai Deputi I KSAL pada 10 Oktober 1959, dan empat hari setelah itu, ia naik pangkat menjadi letkol. Sebagai Deputi I KSAL, ia fokus pada penertiban dalam tubuh AL, terutama dalam bidang keuangan dan logistik. 

Dia menegur keras atau memberi nasihat kepada perwira yang tidak disiplin, tetapi juga percaya bahwa watak buruk seseorang dapat diperbaiki. Kenaikan pangkat berikutnya menjadi Kolonel terjadi pada 1 Januari 1960, disertai dengan penganugerahan Bintang Dharma. 

Dia diangkat menjadi pejabat Men/KSAL pada 10 Mei 1960, dan naik pangkat menjadi komodor pada 17 April 1961 dalam waktu 16 bulan.

Pertempuran Laut Aru

Ketika pertempuran di Laut Aru berkecamuk, Yos Sudarso menjabat sebagai Deputi Operasi Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), posisi kedua tertinggi di ALRI. Operasi di Laut Aru merupakan bagian dari upaya membebaskan Papua Barat dari penjajahan Belanda setelah Presiden Soekarno mengumumkan Trikora pada 19 Desember 1961. 

Pada malam 15 Januari 1962, tiga kapal Perang Republik Indonesia (KRI) (KRI Macan Tutul, KRI Macan Kumbang, dan KRI Harimau) berangkat dari Tanjung Priok, Jakarta, dan terlibat dalam operasi ini di perairan Maluku. Terdapat empat kapal Motor Torpedo Boat (MTB) buatan Jerman, tetapi hanya tiga dari mereka yang tiba di Kepulauan Aru tepat waktu. KRI Macan Tutul dipimpin oleh Yos.

Pergerakan Yos dan KRI lainnya di Laut Aru tercium oleh armada perang Belanda, termasuk kapal besar dengan persenjataan lengkap seperti Hr. MS. Evertsen yang dilengkapi dengan torpedo. Yos menyadari kelemahan perlengkapan tempur dan memerintahkan agar ketiga kapal republik mundur. Namun, kapal Belanda menyangka ini sebagai kesempatan untuk menyerang dan melepaskan tembakan.

Yos membuat keputusan sulit: mengorbankan KRI Macan Tutul sebagai umpan agar dua kapal lainnya bisa menyelamatkan diri. KRI Macan Tutul berhadapan dengan kapal perang Belanda dan terkena tembakan fatal, terbakar, dan tenggelam. Meskipun Yos mengalami luka berat, ia masih mampu memberikan pesan terakhir melalui radio walkie-talkie, menyerukan semangat pertempuran yang kesatria.

Laut, yang pernah dianggapnya sebagai jembatan pemersatu dari negara kepulauan, kini menjadi tempat peristirahatan terakhirnya. Dengan pengabdian yang tulus, Yos Sudarso menyelesaikan tugasnya, sesuai dengan keyakinannya bahwa ia sepenuhnya milik negara.

Komodor Yos Sudarso dan seluruh awak kapalnya gugur sebagai pahlawan bangsa. Ia meninggalkan seorang istri, Siti Mustini, dan tiga anak, dengan putra bungsunya saat itu berusia 18 bulan. 

Sebagai penghormatan atas jasanya, pemerintah meningkatkan pangkatnya menjadi Laksamana Muda anumerta, sambil memberinya gelar pahlawan nasional pada tahun 1973 melalui Surat Keputusan Presiden RI No. 088/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973.

 

Share Article:

arsipmanusia.com

Writer & Blogger

Considered an invitation do introduced sufficient understood instrument it. Of decisively friendship in as collecting at. No affixed be husband ye females brother garrets proceed. Least child who seven happy yet balls young. Discovery sweetness principle discourse shameless bed one excellent. Sentiments of surrounded friendship dispatched connection is he. Me or produce besides hastily up as pleased. 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baru Terbit

  • All Post
  • Biografi
  • Lembaga
  • Penghargaan
  • Peristiwa
    •   Back
    • Pemimpin
    • Agama
    • Seniman
    • Pahlawan
    • Politik
    • Militer
    • Islam
    • Kristen
    • Katolik
    • Budha
    • Pencipta Lagu
    • Musisi
    • Penyanyi
    • Komedian
    • Aktor
    •   Back
    • Pencipta Lagu
    • Musisi
    • Penyanyi
    • Komedian
    • Aktor
    •   Back
    • Bintang
    • Satyalancana
    • Lencana Internasional
    •   Back
    • Islam
    • Kristen
    • Katolik
    • Budha
    •   Back
    • Kabinet
    •   Back
    • Pahlawan
    • Politik
    • Militer
    •   Back
    • Perang

Jenderal AH Nasution

Jenderal Abdul Haris Nasution, lahir pada 3 Desember 1918, adalah sosok kunci dalam sejarah Indonesia yang memberikan kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan negara.

Join the family!

Sign up for a Newsletter.

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.
Edit Template

About

Arsip Manusia

Arsip Manusia, blog biografi tokoh terkenal, dibuat Maret 2023. Kami membagikan cerita inspiratif dan menerima kontribusi tulisan dari penulis luar setelah seleksi ketat. Konten bebas politik, kebencian, dan rasisme; saat ini tanpa bayaran.

Recent Post

Team

Scroll to Top